Anak tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar untuk merasa dicintai. Kadang, hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari justru menjadi kenangan yang paling mereka ingat.
Sebagai orang tua, kita tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anak.
Kita bekerja keras, memenuhi kebutuhan mereka, membayar sekolah, menyediakan
makanan, pakaian, dan berbagai fasilitas.
Namun, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri : “Apakah anakku
benar-benar merasa dicintai?”
Memberikan kebutuhan anak memang penting. Tetapi anak juga membutuhkan
sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang, yaitu perhatian, waktu, sentuhan,
dan rasa diterima. Untuk membuat anak merasa dicintai, kita tidak harus
melakukan hal-hal besar. Ada kebiasaan kecil yang bisa kita lakukan setiap
hari.
1. Menyapa Anak dengan Senyum
Ketika anak pulang
sekolah, cobalah menyambutnya dengan senyuman. Tidak harus dengan pertanyaan
panjang. Cukup dengan: “Sudah pulang, Nak?” atau “Bagaimana harimu
hari ini?”
Sapaan sederhana
membuat anak merasa bahwa kehadirannya ditunggu dan dirindukan di rumah.
2. Mendengarkan
Cerita Mereka
Terkadang cerita anak
terdengar sepele bagi kita. Tentang teman sebangku. Tentang guru. Tentang tugas
sekolah. Tentang pertandingan olahraga. Tentang seseorang yang membuat mereka
kesal. Tetapi bagi anak, cerita itu penting. Jangan buru-buru memberikan
nasihat. Dengarkan terlebih dahulu. Letakkan ponsel sejenak dan tatap mata
mereka. Karena terkadang anak tidak membutuhkan solusi. Mereka hanya ingin
didengarkan.
3. Memberikan
Pelukan
Pelukan adalah bahasa
kasih sayang yang sederhana, tetapi sangat berarti.
Peluk anak ketika
mereka pulang sekolah. Peluk ketika mereka berhasil. Peluk ketika mereka gagal.
Bahkan peluk ketika mereka sedang sedih dan tidak ingin bercerita.
Sebuah pelukan bisa
mengatakan :“Tidak apa-apa, Nak. Kamu tidak sendirian. Ayah dan Ibu ada di
sini.”
4. Mengucapkan
“Terima Kasih”
Kita sering meminta
anak mengucapkan terima kasih. Tetapi jangan lupa mengucapkan terima kasih
kepada mereka.
“Terima kasih sudah
membantu Ibu.”
“Terima kasih sudah
berusaha.”
“Terima kasih sudah
mau mendengarkan.”
Anak akan belajar
bahwa usaha mereka dihargai. Tidak semua apresiasi harus diberikan karena
prestasi besar. Menghargai usaha kecil juga penting.
Ketika anak
mendapatkan nilai bagus, tentu kita bahagia. Tetapi jangan sampai anak merasa
bahwa dirinya hanya berharga ketika mendapatkan prestasi. Ajarkan bahwa
keberhasilan bukan hanya tentang menjadi yang terbaik, tetapi juga tentang
berani mencoba, bertanggung jawab, dan tidak mudah menyerah.
Sesekali katakan: “Ibu
bangga karena kamu sudah berusaha.”
Bukan hanya: “Berapa
nilaimu?”
6. Luangkan
Waktu Tanpa Gadget
Perkembangan zaman
yang semakin canggih membuat semua orang sibuk dengan gadget, baik itu
orangtua, anak muda, anak kecil, dan bahkan anak balita pun sudah mengenal
gadget. Hal ini membuat komunikasi antara orangtua dan anak menjadi jauh.
Terkadang mereka duduk berdekatan namun semuanya sibuk dengan gadgetnya
masing-masing tanpa ada komunikasi.
Meluangkan waktu
orangtua dengan anak tanpa gadget sangatlah penting. Tidak perlu berjam-jam. Lima
belas menit saja bisa sangat berarti. Duduk bersama. Minum teh. Makan bersama. Berjalan
sebentar atau sekadar berbincang sebelum tidur. Yang penting, selama beberapa menit
itu, anak mendapatkan perhatian penuh dari orang tua.
Kadang anak tidak
membutuhkan waktu yang lama. Mereka hanya membutuhkan waktu yang benar-benar
berkualitas.
7. Katakan
“Ayah dan Ibu Sayang Kamu”
Orangtua sering
beranggapan bahwa anak sudah tahu bahwa kita menyayanginya sehingga orangtua
jarang bahkan tidak pernah mengungkapkannya dengan perkataan. Padahal anak
sangat membutuhkannya. Anak yang sering mendengar ungkapan kasih sayang akan
memiliki rasa aman bahwa dirinya dicintai dan diterima.
Katakan dan ucapkan secara
langsung bahwa “Ayah sayang kamu.” “Bunda bangga punya kamu.” “Apa pun yang
terjadi, kamu tetap anak yang sangat berarti bagi kami.”
8. Minta Maaf
Ketika Kita Salah
Setiap
orang pernah berbuat salah. Orang tua juga bisa salah. Ketika kita terlalu
keras, terbawa emosi, atau mengatakan sesuatu yang menyakiti hati anak, jangan
gengsi untuk meminta maaf. Permintaan maaf tidak membuat wibawa orang tua
hilang. Justru anak belajar bahwa
hubungan yang sehat membutuhkan keberanian untuk mengakui kesalahan.
Katakan
: “Maaf ya, Nak. Tadi Ayah terlalu emosi.”
9. Jadikan Rumah Tempat yang Aman untuk Bercerita
Dalam kehidupan
sehari-hari, terkadang anak menghadapi masalah, seperti masalah pertemanan, masalah
sekolah, kegagalan, kekecewaan, bahkan mungkin masalah yang tidak pernah kita
bayangkan. Saat itu, anak sangat membutuhkan tempat yang aman untuk bercerita. Yang
paling kita harapkan adalah mereka datang kepada kita untuk menceritakan segala
permasalahannya.
Karena itu, sejak
sekarang bangun kebiasaan sederhana : Jangan langsung menghakimi ketika anak
bercerita. Tapi dengarkan, pahami, kemudian bantu mereka mencari jalan keluar. Biarkan
anak merasa bahwa rumah bukan tempat untuk takut ketika melakukan kesalahan. Rumah
adalah tempat untuk pulang.
Anak Akan Tumbuh, Tetapi Kenangan Akan Tinggal
Anak-anak kita tidak akan selamanya kecil. Suatu hari mereka akan tumbuh dewasa. Mereka akan sibuk dengan sekolah, pekerjaan, teman, dan kehidupannya sendiri. Mungkin suatu saat mereka tidak lagi meminta dipeluk. Tidak lagi meminta ditemani. Tidak lagi bercerita panjang tentang hal-hal kecil.
Karena itu, selagi masih ada kesempatan, mari hadir untuk mereka. Tidak
harus dengan hadiah mahal. Tidak harus dengan liburan mewah. Tidak harus dengan
sesuatu yang besar. Tapi dengan senyum, pelukan, mendengarkan, mengucapkan terima
kasih, mengatakan “Ayah dan Ibu sayang kamu”, atau hal-hal kecil lainnya.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar