Fatmawati
Sabtu, 05 September 2026
Jumat, 04 September 2026
Ketekunan : Tetap Melangkah Meski Perlahan
Tidak semua perjalanan hidup berjalan mudah. Ada kalanya kita sudah berusaha, tetapi hasilnya belum terlihat. Sudah belajar, tetapi masih merasa belum mampu. Sudah mencoba, tetapi justru mengalami kegagalan. Pada saat seperti itu, kita sering ingin berhenti. Namun, mungkin yang kita butuhkan bukan usaha yang lebih besar, melainkan ketekunan untuk terus melangkah.
Ketekunan adalah kemampuan untuk tetap berusaha meskipun hasil belum
sesuai harapan. Tidak harus cepat. Tidak harus sempurna. Yang penting, kita
tidak berhenti.
Sedikit Demi Sedikit
Kita sering ingin mendapatkan hasil dengan segera. Padahal, banyak hal
baik dalam hidup membutuhkan waktu. Pohon tidak langsung menjadi besar setelah
ditanam. Ia membutuhkan air, sinar matahari, dan waktu untuk tumbuh. Begitu
juga dengan kita. Belajar sedikit demi sedikit. Berbuat baik sedikit demi sedikit. Memperbaiki diri sedikit demi sedikit.
Mungkin hari ini perubahan itu belum terlihat. Tetapi jika dilakukan
terus-menerus, suatu saat kita akan melihat betapa jauh kita sudah berjalan. Jangan
meremehkan langkah kecil. Bisa jadi, langkah kecil itulah yang membawa kita
menuju sesuatu yang besar.
Ketika Kita Ingin Menyerah
Ada hari-hari ketika kita merasa lelah. Kita bertanya dalam hati,
“Mengapa hasilnya belum juga terlihat?”
Jika itu terjadi, tidak apa-apa untuk beristirahat. Tetapi jangan
menyerah pada impian hanya karena perjalanan terasa berat. Ingatlah alasan
mengapa kita memulai. Mungkin ada cita-cita yang ingin diwujudkan. Mungkin ada
orang tua yang ingin kita bahagiakan.
Mungkin ada diri kita di masa depan yang sedang menunggu hasil dari perjuangan
hari ini. Tetaplah bertahan. Karena terkadang, kita tidak pernah tahu bahwa
keberhasilan mungkin sudah semakin dekat.
Tidak Perlu Membandingkan Diri
Setiap orang memiliki waktunya sendiri. Ada yang berhasil lebih cepat.
Ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Jangan merasa gagal hanya karena
perjalanan kita berbeda dengan orang lain.
Bunga mawar dan bunga melati tidak mekar pada waktu yang sama. Namun,
keduanya tetap indah ketika waktunya tiba.
Begitu pula dengan kehidupan. Tidak perlu terburu-buru. Teruslah
berjalan sesuai kemampuan kita. Yang penting bukan seberapa cepat kita sampai,
tetapi seberapa kuat kita bertahan dalam perjalanan.
Ketekunan Akan Mengubah Kita
Mungkin ketekunan tidak langsung memberikan apa yang kita inginkan. Tetapi
ketekunan akan mengubah diri kita. Kita menjadi lebih sabar. Lebih kuat.
Lebih disiplin. Lebih menghargai proses. Dan suatu hari nanti, ketika kita
melihat kembali perjalanan yang telah dilalui, kita mungkin akan tersenyum dan
berkata:
“Ternyata aku mampu melewati semua itu.”
Saat itulah kita menyadari bahwa perjuangan kita tidak sia-sia.
Tetaplah Melangkah
Jika hari ini terasa berat, tidak apa-apa berjalan pelan.
Jika hari ini belum berhasil, coba lagi esok hari.
Jika jatuh, bangkitlah.
Jika lelah, beristirahatlah.
Tetapi jangan berhenti terlalu lama.
Sebab hidup bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai tujuan.
Hidup adalah tentang siapa yang mau terus belajar dan berusaha. Ketekunan
mungkin membuat langkah kita lambat, tetapi ketekunan membuat kita tetap
bergerak. Dan terkadang, orang yang terus berjalan perlahan justru sampai
lebih jauh daripada mereka yang berlari tetapi mudah menyerah. Jadi, apa pun
yang sedang kita perjuangkan hari ini, tetaplah percaya.
Tidak ada usaha yang benar-benar sia-sia. Teruslah melangkah. Pelan tidak apa-apa. Yang penting, jangan menyerah.
#LombaBlogNasional
Kamis, 03 September 2026
Indahnya Berbagi untuk Sesama
Berbagi tidak selalu tentang seberapa banyak yang kita punya.
Terkadang, berbagi hanya membutuhkan hati yang peduli.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berpikir bahwa untuk berbagi
kita harus memiliki sesuatu yang lebih. Uang yang banyak, makanan yang
berlimpah, atau barang yang bisa diberikan kepada orang lain. Padahal, berbagi
tidak selalu harus dalam bentuk materi.
Senyum, perhatian, waktu, tenaga, bahkan sebuah ucapan sederhana
seperti “Apa kabar?” juga bisa menjadi bentuk berbagi yang berarti.
Berbagi Membuat Hidup Lebih Bermakna
Ada kebahagiaan yang berbeda ketika kita bisa membantu orang lain.
Mungkin bantuan yang kita berikan terlihat kecil bagi kita, tetapi bisa menjadi
sesuatu yang sangat berarti bagi orang lain. Memberikan makanan kepada
seseorang yang membutuhkan, membantu teman yang sedang kesulitan, mendengarkan
cerita seseorang yang sedang memiliki masalah, atau sekadar menemani orang yang
merasa sendirian adalah bentuk-bentuk kebaikan yang sederhana. Kita mungkin
tidak selalu menyadari dampaknya. Namun, kebaikan kecil yang kita lakukan bisa
menjadi alasan seseorang kembali tersenyum.
Tidak Harus Menunggu Kaya untuk Berbagi
Sering kali kita berkata, “Nanti kalau sudah punya banyak, saya akan
berbagi.”
Padahal, berbagi tidak harus menunggu kita menjadi kaya. Kita bisa
berbagi sesuai kemampuan. Jika tidak mampu memberikan uang, kita bisa
memberikan tenaga. Jika tidak memiliki banyak waktu, kita bisa memberikan
perhatian. Jika tidak memiliki sesuatu untuk diberikan, kita masih bisa
memberikan senyuman dan kata-kata yang baik. Karena yang membuat sebuah
pemberian menjadi berharga bukan hanya nilainya, tetapi ketulusan di balik
pemberian tersebut.
Berbagi Tidak Membuat Kita Kekurangan
Sebagian orang mungkin takut berbagi karena khawatir apa yang
dimilikinya akan berkurang. Namun, ada banyak hal yang justru terasa semakin
bertambah ketika dibagikan. Kasih sayang, ilmu, perhatian, semangat, dan
kebaikan adalah contoh sederhana.
Ketika kita berbagi ilmu, orang lain menjadi lebih pintar. Ketika kita
berbagi semangat, seseorang bisa kembali percaya diri. Ketika kita berbagi
kasih sayang, seseorang merasa tidak sendirian.
Bukankah indah jika sesuatu yang kita miliki bisa membuat kehidupan
orang lain menjadi sedikit lebih baik?
Berbagi Mengajarkan Kita untuk Bersyukur
Berbagi juga mengajarkan kita untuk melihat kehidupan dari sudut
pandang yang berbeda. Ketika kita membantu seseorang yang sedang mengalami
kesulitan, kita menjadi lebih sadar bahwa masih banyak hal yang patut disyukuri
dalam hidup kita.
Kita belajar bahwa kebahagiaan bukan hanya tentang memiliki banyak hal,
tetapi juga tentang mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Terkadang, kita
terlalu sibuk mengejar apa yang belum kita miliki sampai lupa mensyukuri apa
yang sudah ada.
Berbagi mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang “apa yang
bisa saya dapatkan?”, tetapi juga “apa yang bisa saya berikan?”
Mulailah dari Hal-Hal Kecil
Tidak perlu menunggu kesempatan besar untuk berbuat baik.
Mulailah dari lingkungan terdekat.
Senyum kepada orang yang kita temui. Membantu orang tua di rumah.
Menolong teman yang kesulitan. Berbagi makanan. Mendengarkan seseorang yang
sedang bercerita. Mengucapkan terima kasih. Memberikan apresiasi kepada orang
lain.
Hal-hal kecil tersebut mungkin tampak sederhana, tetapi jika dilakukan
dengan tulus, bisa memberikan dampak yang besar.
Bayangkan jika setiap orang melakukan satu kebaikan setiap hari. Betapa
hangatnya kehidupan jika kebaikan dilakukan bersama-sama.
Berbagi Adalah Cara Menebarkan Kebahagiaan
Kebaikan itu menular. Ketika seseorang mendapatkan pertolongan, ia bisa
terdorong untuk melakukan hal yang sama kepada orang lain. Dari satu orang
kemudian berpindah kepada orang berikutnya. Dari satu kebaikan lahir kebaikan
lainnya. Itulah indahnya berbagi.
Kita tidak pernah tahu sejauh mana kebaikan kecil kita akan berjalan.
Mungkin hari ini kita membantu seseorang, kemudian suatu hari orang tersebut
membantu orang lain. Dengan begitu, kebaikan terus bergerak dan menjadi bagian
dari kehidupan banyak orang.
Berbagi Itu Indah
Pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil
kita kumpulkan, tetapi juga tentang seberapa banyak manfaat yang bisa kita
berikan. Tidak perlu menjadi orang kaya untuk berbagi. Tidak perlu menunggu
memiliki banyak untuk peduli.
Berbagilah dengan apa yang kita punya, sesuai dengan kemampuan dan
dengan hati yang tulus.
Sebab terkadang, sesuatu yang sederhana bagi kita bisa menjadi sangat
berarti bagi orang lain.
Satu senyum mungkin terlihat kecil.
Satu kata penyemangat mungkin terdengar sederhana.
Satu bantuan mungkin terasa biasa.
Tetapi bagi seseorang yang sedang membutuhkan, semua itu bisa menjadi
sesuatu yang sangat berharga.
Mari berbagi. Mari peduli. Mari menjadi alasan bagi orang lain untuk
tersenyum.
Karena sesungguhnya, indahnya hidup bukan hanya ketika kita bahagia,
tetapi ketika kita mampu membuat orang lain merasakan kebahagiaan melalui
kebaikan yang kita berikan.
Rabu, 02 September 2026
Makna Bersahaja: Belajar Menikmati Hidup dengan Sederhana
Di tengah kehidupan yang semakin cepat, kita sering merasa harus
memiliki lebih banyak untuk bisa merasa bahagia. Rumah yang lebih besar,
pekerjaan yang lebih baik, barang-barang yang lebih mahal, atau pengakuan dari
orang lain terkadang menjadi ukuran keberhasilan.
Padahal, kebahagiaan tidak selalu datang dari sesuatu yang besar. Ada
kalanya kebahagiaan justru tumbuh dari hal-hal sederhana. Dari secangkir kopi
di pagi hari, percakapan bersama keluarga, senyum seorang teman, atau rasa
syukur karena masih diberi kesempatan menjalani hari. Di situlah kita belajar
tentang makna bersahaja.
Bersahaja Bukan Berarti Kekurangan
Bersahaja sering dipahami sebagai hidup sederhana. Namun, sederhana
bukan berarti hidup dalam kekurangan atau tidak boleh memiliki impian.
Bersahaja adalah kemampuan untuk menjalani hidup dengan apa adanya,
tanpa harus berlebihan dan tanpa merasa perlu membandingkan diri dengan orang
lain.
Orang yang bersahaja bukan berarti tidak ingin sukses. Ia tetap
memiliki cita-cita, bekerja keras, dan berusaha menjadi lebih baik. Namun, ia
tidak menjadikan materi, pujian, atau penilaian orang lain sebagai satu-satunya
ukuran kebahagiaan. Ia tahu kapan harus berusaha dan kapan harus merasa cukup.
Tidak Harus Selalu Terlihat Hebat
Di zaman media sosial, kita sering melihat kehidupan orang lain yang
tampak sempurna. Ada yang berlibur ke tempat indah, memiliki pekerjaan yang
keren, membeli barang baru, atau mencapai berbagai prestasi. Tanpa disadari,
kita kemudian membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan mereka.
Padahal, apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari
kehidupan seseorang. Kita tidak pernah benar-benar tahu perjuangan, kegagalan,
dan masalah yang mereka hadapi. Bersahaja mengajarkan kita untuk tidak sibuk
membuktikan bahwa hidup kita lebih hebat daripada orang lain. Kita tidak harus
selalu terlihat sukses. Tidak harus selalu mendapatkan pujian. Tidak harus
selalu menjadi yang paling unggul. Cukup menjadi diri sendiri dan menjalani
hidup dengan sebaik-baiknya.
Bersyukur atas Hal-Hal Kecil
Salah satu bagian penting dari hidup bersahaja adalah belajar
bersyukur. Sering kali kita terlalu fokus pada sesuatu yang belum dimiliki
hingga lupa menghargai apa yang sudah ada. Kita ingin mendapatkan lebih banyak,
tetapi lupa bahwa masih ada banyak hal yang layak disyukuri.
Kesehatan, keluarga, teman, pekerjaan, kesempatan belajar, waktu
bersama orang-orang yang kita sayangi, bahkan kesempatan untuk bangun dan
memulai hari adalah anugerah yang terkadang kita anggap biasa. Bersahaja
membuat kita lebih peka terhadap kebahagiaan kecil. Kita belajar bahwa
secukupnya bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti ketika disertai rasa
syukur.
Bersahaja dalam Bersikap
Kesederhanaan bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi juga
tentang bagaimana kita bersikap. Orang yang bersahaja tidak merasa dirinya
lebih tinggi dari orang lain. Ia mampu menghargai siapa saja, baik yang
memiliki banyak maupun yang hidup sederhana. Ia tidak malu mengakui kesalahan.
Tidak gengsi meminta maaf. Tidak merasa harus selalu menang dalam setiap
perdebatan. Bersahaja membuat seseorang lebih rendah hati.
Karena pada akhirnya, nilai seseorang bukan ditentukan oleh seberapa mahal pakaian yang dikenakan, seberapa tinggi jabatan yang dimiliki, atau seberapa banyak harta yang dikumpulkan. Nilai seseorang lebih terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang lain.
Belajar Merasa Cukup
Merasa cukup bukan berarti berhenti berkembang. Merasa cukup berarti
mampu menikmati apa yang sudah dimiliki sambil tetap berusaha mencapai sesuatu
yang lebih baik. Kita boleh memiliki cita-cita tinggi. Kita boleh ingin sukses.
Kita boleh bekerja keras untuk kehidupan yang lebih baik.
Namun, jangan sampai keinginan untuk mendapatkan lebih membuat kita
kehilangan ketenangan. Sebab, jika kebahagiaan selalu bergantung pada sesuatu
yang belum kita miliki, kita akan terus merasa kurang.
Hari ini ingin memiliki sesuatu. Setelah mendapatkannya, kita
menginginkan yang lain. Begitu seterusnya. Bersahaja mengajarkan kita untuk
berkata dalam hati, “Aku akan terus berusaha, tetapi aku juga akan
menghargai apa yang sudah Tuhan berikan kepadaku.”
Hidup Sederhana, Hati Lebih Tenang
Hidup yang bersahaja bukan berarti hidup tanpa masalah. Setiap orang
tetap memiliki persoalan dan tantangannya masing-masing. Namun, kesederhanaan
dapat membantu kita menjalani kehidupan dengan lebih tenang. Kita tidak terlalu
sibuk mengejar pengakuan. Tidak terlalu lelah membandingkan diri. Tidak terlalu
takut dianggap kurang oleh orang lain.
Kita mulai memahami bahwa hidup bukan perlombaan. Setiap orang memiliki
jalan, waktu, dan cerita masing-masing. Ada yang berhasil lebih cepat. Ada yang
membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang berjalan dengan penuh kemudahan,
sementara yang lain harus melewati banyak perjuangan. Tidak apa-apa. Yang
penting adalah tetap berjalan, tetap belajar, dan tetap menjadi manusia yang
baik.
Bersahaja adalah tentang menemukan kebahagiaan tanpa harus hidup berlebihan.
Bersahaja berarti menikmati kehidupan dengan penuh syukur, menghargai
hal-hal kecil, tidak mudah membandingkan diri, dan mampu merasa cukup tanpa
kehilangan semangat untuk berkembang. Mungkin kita tidak memiliki segala
sesuatu yang kita inginkan. Tetapi bukan berarti kita tidak memiliki sesuatu
yang berharga.
Terkadang, hidup yang sederhana justru menyimpan kebahagiaan yang
paling tulus. Karena hidup bukan tentang seberapa banyak yang berhasil kita
kumpulkan, tetapi tentang seberapa mampu kita mensyukuri, menikmati, dan
memberi makna pada apa yang kita miliki.
Hiduplah sederhana, bersikaplah rendah hati, dan jangan lupa bersyukur. Sebab ketenangan hati sering kali tidak ditemukan dalam kemewahan, tetapi dalam kemampuan untuk merasa cukup.
Selasa, 01 September 2026
Hidup Sederhana, Hati Lebih Bahagia
Di zaman sekarang, banyak orang berlomba menunjukkan apa yang dimiliki. Hidup sederhana mungkin terlihat biasa saja, tidak banyak dipamerkan, tidak selalu mengikuti tren, dan tidak sibuk membuktikan sesuatu kepada orang lain. Namun, justru dalam kesederhanaan sering kali kita menemukan sesuatu yang sulit dibeli dengan uang ketenangan dan kebahagiaan.
Kita sering mengira bahagia itu ketika memiliki rumah yang besar,
kendaraan yang bagus, pekerjaan yang mapan, atau bisa membeli apa saja yang
kita inginkan. Padahal, semakin banyak yang kita kejar, terkadang semakin
banyak pula yang membuat hati merasa kurang.
Kesederhanaan mengajarkan kita sejenak dan bertanya : “Apakah yang
saya miliki hari ini sebenarnya sudah cukup?”
Sederhana Bukan Berarti Kekurangan
Hidup sederhana bukan berarti hidup dalam kekurangan. Sederhana adalah
kemampuan untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Kita boleh memiliki sesuatu yang baik. Kita boleh menikmati hasil kerja
keras. Tetapi kita tidak harus memiliki semuanya hanya karena orang lain
memilikinya.
Sederhana berarti membeli sesuatu karena memang dibutuhkan, bukan
karena ingin terlihat lebih dari orang lain. Sederhana juga berarti mampu
menikmati makanan rumahan, berbincang bersama keluarga, berjalan-jalan tanpa
kemewahan, dan merasa cukup dengan apa yang ada.
Karena terkadang, yang membuat hidup terasa berat bukan karena kita
memiliki terlalu sedikit, tetapi karena kita menginginkan terlalu banyak.
Kebahagiaan Tidak Selalu Mahal
Ada kebahagiaan yang tidak membutuhkan banyak uang. Secangkir teh
bersama pasangan.
Tawa anak-anak di ruang keluarga. Makan bersama tanpa tergesa-gesa.
Menyapa tetangga. Berjalan pagi sambil menikmati udara segar. Atau sekadar
duduk tenang setelah menyelesaikan pekerjaan. Hal-hal kecil seperti itu sering
kita abaikan karena terlihat sederhana. Padahal, ketika suatu hari kita
kehilangan kesempatan untuk menikmatinya, kita baru menyadari bahwa kebahagiaan
ternyata selama ini begitu dekat.
Ajarkan Kesederhanaan kepada Anak
Kesederhanaan juga merupakan nilai penting yang perlu dikenalkan kepada
anak sejak dini. Anak tidak harus selalu mendapatkan apa yang mereka minta.
Mereka perlu belajar bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi. Ajarkan mereka
untuk menghargai makanan, merawat barang yang dimiliki, berbagi dengan orang
lain, dan mengucapkan terima kasih. Lebih dari sekadar nasihat, anak belajar
dari apa yang mereka lihat.
Ketika orang tua tidak berlebihan dalam berbelanja, tidak sibuk
membandingkan kehidupan dengan orang lain, dan mampu bersyukur atas apa yang
dimiliki, anak pun belajar bahwa hidup tidak harus mewah untuk menjadi
bahagia.
Kesederhanaan Membuat Kita Lebih Bersyukur
Orang yang sederhana bukan berarti tidak memiliki impian. Ia tetap memiliki cita-cita, bekerja keras,
dan berusaha menjadi lebih baik. Bedanya, ia tidak menjadikan apa yang belum
dimiliki sebagai alasan untuk tidak bahagia.
Ia mampu berkata: “Saya ingin lebih, tetapi saya juga bersyukur
dengan apa yang sudah saya miliki.”
Inilah yang membuat hati menjadi lebih tenang. Kita tetap boleh
mengejar kesuksesan, tetapi jangan sampai kehilangan rasa syukur dalam
perjalanan menuju kesuksesan itu.
Tidak Perlu Membuktikan Diri kepada Semua Orang
Salah satu bentuk kesederhanaan yang paling indah adalah ketika kita
tidak lagi merasa harus menunjukkan segala sesuatu kepada orang lain. Tidak
semua keberhasilan harus diumumkan.
Tidak semua kebaikan harus dipuji. Tidak semua kebahagiaan harus
dipamerkan.
Ada hal-hal yang justru menjadi lebih bermakna ketika cukup kita dan
orang-orang terdekat yang mengetahuinya. Sebab, hidup bukan perlombaan untuk
terlihat paling berhasil. Setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda.
Mulailah dari Hal-Hal Kecil
Kesederhanaan tidak perlu dimulai dengan perubahan besar. Mulailah dari
rumah. Gunakan barang secukupnya. Belanja sesuai kebutuhan. Kurangi
membandingkan diri dengan orang lain.
Luangkan waktu bersama keluarga. Nikmati makanan yang ada.Belajar bersyukur.
Dan jangan takut terlihat sederhana. Karena pada akhirnya, yang paling penting
bukan seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa damai hati kita
dalam menjalaninya.
Dunia mungkin terus mengajarkan kita untuk memiliki lebih banyak. Lebih banyak uang. Lebih banyak barang. Lebih banyak pengakuan.Lebih banyak pencapaian. Tetapi hati kita juga membutuhkan sesuatu yang berbeda:
lebih banyak rasa syukur, lebih banyak waktu bersama orang tercinta,
dan lebih banyak ketenangan.
Hidup sederhana bukan tentang memiliki sedikit. Hidup sederhana
adalah tentang mampu merasa cukup.
Sebab terkadang, setelah kita berhenti mengejar begitu banyak hal, kita
baru menyadari bahwa kebahagiaan yang kita cari ternyata sudah ada di depan
mata.
Senin, 31 Agustus 2026
Santunan Nasional dalam rangka Tasyakuran Maulid Nabi Muhammad SAW.
Pada hari ini, Senin, 31 Agustus 2026 M bertepatan dengan tanggal 17 Rabiul Awwal 1448 H, warga Thoriqoh Shiddiqiyyah Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung melaksanakan kegiatan Santunan Nasional Ke-22 sekaligus Penyampaian Rumah Syukur Layak Huni Shiddqiyyah yang dilaksanakan di Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah yang terletak di Dusun Sumbertengah Pekon Tekad Kecamatan Pulaupanggung Kabupaten Tanggamus. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka Tasyakuran Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Ulang Tahun Dhibra Shiddiqiyyah Ke-26. Kegiatan ini dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia.
Kegiatan ini dihadiri oleh
seluruh warga Thoriqoh Shiddiqiyyah Kabupaten Tanggamus yang berasaldari
beberapa kecamatan dan juga dihadiri oleh jama’ah pengajian Dusun Sumbertengah,
aparat desa Tekad, Uspika Kecamatan Pulaupanggung, Kapolsek, Danramil dan Kepala
KUA kecamatan Pulaupanggung. Pada kegiatan tersebut ada sejumlah 72 paket Santunan Nasional diberikan kepada anak yatim
dan fakir miskin. Beberapa orang diberikan secara simbolis di tempat acara,
sedangkan yang lainnya diantarkan ke rumah orang yang berhak menerimanya.
Setelah Penyampaian Santunan
nasional dilanjutkan dengan Penyampaian Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia
Layak Huni Shiddiqiyyah yang dibangun oleh warga Thoriqoh Shiddiqiyyah dalam
rangka mensyukuri Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya Negara Kesatuan
Republik Indonesia ke-81. Rumah Syukur tersebut dipersembahkan kepada Bapak
Sumardi warga Dusun Sumbertengah Desa Tekad Kecamatan Pulaupanggung.
Minggu, 30 Agustus 2026
Kebiasaan Kecil yang Membuat Anak Merasa Dicintai
Anak tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar untuk merasa dicintai. Kadang, hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari justru menjadi kenangan yang paling mereka ingat.
Sebagai orang tua, kita tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anak.
Kita bekerja keras, memenuhi kebutuhan mereka, membayar sekolah, menyediakan
makanan, pakaian, dan berbagai fasilitas.
Namun, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri : “Apakah anakku
benar-benar merasa dicintai?”
Memberikan kebutuhan anak memang penting. Tetapi anak juga membutuhkan
sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang, yaitu perhatian, waktu, sentuhan,
dan rasa diterima. Untuk membuat anak merasa dicintai, kita tidak harus
melakukan hal-hal besar. Ada kebiasaan kecil yang bisa kita lakukan setiap
hari.
1. Menyapa Anak dengan Senyum
Ketika anak pulang
sekolah, cobalah menyambutnya dengan senyuman. Tidak harus dengan pertanyaan
panjang. Cukup dengan: “Sudah pulang, Nak?” atau “Bagaimana harimu
hari ini?”
Sapaan sederhana
membuat anak merasa bahwa kehadirannya ditunggu dan dirindukan di rumah.
2. Mendengarkan
Cerita Mereka
Terkadang cerita anak
terdengar sepele bagi kita. Tentang teman sebangku. Tentang guru. Tentang tugas
sekolah. Tentang pertandingan olahraga. Tentang seseorang yang membuat mereka
kesal. Tetapi bagi anak, cerita itu penting. Jangan buru-buru memberikan
nasihat. Dengarkan terlebih dahulu. Letakkan ponsel sejenak dan tatap mata
mereka. Karena terkadang anak tidak membutuhkan solusi. Mereka hanya ingin
didengarkan.
3. Memberikan
Pelukan
Pelukan adalah bahasa
kasih sayang yang sederhana, tetapi sangat berarti.
Peluk anak ketika
mereka pulang sekolah. Peluk ketika mereka berhasil. Peluk ketika mereka gagal.
Bahkan peluk ketika mereka sedang sedih dan tidak ingin bercerita.
Sebuah pelukan bisa
mengatakan :“Tidak apa-apa, Nak. Kamu tidak sendirian. Ayah dan Ibu ada di
sini.”
4. Mengucapkan
“Terima Kasih”
Kita sering meminta
anak mengucapkan terima kasih. Tetapi jangan lupa mengucapkan terima kasih
kepada mereka.
“Terima kasih sudah
membantu Ibu.”
“Terima kasih sudah
berusaha.”
“Terima kasih sudah
mau mendengarkan.”
Anak akan belajar
bahwa usaha mereka dihargai. Tidak semua apresiasi harus diberikan karena
prestasi besar. Menghargai usaha kecil juga penting.
Ketika anak
mendapatkan nilai bagus, tentu kita bahagia. Tetapi jangan sampai anak merasa
bahwa dirinya hanya berharga ketika mendapatkan prestasi. Ajarkan bahwa
keberhasilan bukan hanya tentang menjadi yang terbaik, tetapi juga tentang
berani mencoba, bertanggung jawab, dan tidak mudah menyerah.
Sesekali katakan: “Ibu
bangga karena kamu sudah berusaha.”
Bukan hanya: “Berapa
nilaimu?”
6. Luangkan
Waktu Tanpa Gadget
Perkembangan zaman
yang semakin canggih membuat semua orang sibuk dengan gadget, baik itu
orangtua, anak muda, anak kecil, dan bahkan anak balita pun sudah mengenal
gadget. Hal ini membuat komunikasi antara orangtua dan anak menjadi jauh.
Terkadang mereka duduk berdekatan namun semuanya sibuk dengan gadgetnya
masing-masing tanpa ada komunikasi.
Meluangkan waktu
orangtua dengan anak tanpa gadget sangatlah penting. Tidak perlu berjam-jam. Lima
belas menit saja bisa sangat berarti. Duduk bersama. Minum teh. Makan bersama. Berjalan
sebentar atau sekadar berbincang sebelum tidur. Yang penting, selama beberapa menit
itu, anak mendapatkan perhatian penuh dari orang tua.
Kadang anak tidak
membutuhkan waktu yang lama. Mereka hanya membutuhkan waktu yang benar-benar
berkualitas.
7. Katakan
“Ayah dan Ibu Sayang Kamu”
Orangtua sering
beranggapan bahwa anak sudah tahu bahwa kita menyayanginya sehingga orangtua
jarang bahkan tidak pernah mengungkapkannya dengan perkataan. Padahal anak
sangat membutuhkannya. Anak yang sering mendengar ungkapan kasih sayang akan
memiliki rasa aman bahwa dirinya dicintai dan diterima.
Katakan dan ucapkan secara
langsung bahwa “Ayah sayang kamu.” “Bunda bangga punya kamu.” “Apa pun yang
terjadi, kamu tetap anak yang sangat berarti bagi kami.”
8. Minta Maaf
Ketika Kita Salah
Setiap
orang pernah berbuat salah. Orang tua juga bisa salah. Ketika kita terlalu
keras, terbawa emosi, atau mengatakan sesuatu yang menyakiti hati anak, jangan
gengsi untuk meminta maaf. Permintaan maaf tidak membuat wibawa orang tua
hilang. Justru anak belajar bahwa
hubungan yang sehat membutuhkan keberanian untuk mengakui kesalahan.
Katakan
: “Maaf ya, Nak. Tadi Ayah terlalu emosi.”
9. Jadikan Rumah Tempat yang Aman untuk Bercerita
Dalam kehidupan
sehari-hari, terkadang anak menghadapi masalah, seperti masalah pertemanan, masalah
sekolah, kegagalan, kekecewaan, bahkan mungkin masalah yang tidak pernah kita
bayangkan. Saat itu, anak sangat membutuhkan tempat yang aman untuk bercerita. Yang
paling kita harapkan adalah mereka datang kepada kita untuk menceritakan segala
permasalahannya.
Karena itu, sejak
sekarang bangun kebiasaan sederhana : Jangan langsung menghakimi ketika anak
bercerita. Tapi dengarkan, pahami, kemudian bantu mereka mencari jalan keluar. Biarkan
anak merasa bahwa rumah bukan tempat untuk takut ketika melakukan kesalahan. Rumah
adalah tempat untuk pulang.
Anak Akan Tumbuh, Tetapi Kenangan Akan Tinggal
Anak-anak kita tidak akan selamanya kecil. Suatu hari mereka akan tumbuh dewasa. Mereka akan sibuk dengan sekolah, pekerjaan, teman, dan kehidupannya sendiri. Mungkin suatu saat mereka tidak lagi meminta dipeluk. Tidak lagi meminta ditemani. Tidak lagi bercerita panjang tentang hal-hal kecil.
Karena itu, selagi masih ada kesempatan, mari hadir untuk mereka. Tidak
harus dengan hadiah mahal. Tidak harus dengan liburan mewah. Tidak harus dengan
sesuatu yang besar. Tapi dengan senyum, pelukan, mendengarkan, mengucapkan terima
kasih, mengatakan “Ayah dan Ibu sayang kamu”, atau hal-hal kecil lainnya.
-
Tujuan mempelajari materi Manajemen Waktu Belajar Memahami pentingnya manajemen waktu Mampu mengatur waktu belajar secara...
-
Pertemuan 8 Hari/Tanggal : Rabu, 20 Oktober 2021 Materi : Komitmen Menulis di Blog Nara Sumber ...
-
Pertemuan 9 Hari/Tanggal : Jum’at, 22 Oktober 2021 Materi : Ide Menulis Bagi Guru Nara Sumb...



