Memahami Anak, Bukan Sekadar Menuntut Mereka untuk Diam
Pernahkah kita melihat siswa yang selalu gelisah ketika pembelajaran
berlangsung? Baru beberapa menit duduk, ia mulai menggerakkan kaki, menoleh ke
kanan dan kiri, mengajak teman berbicara, bahkan meminta izin keluar kelas.
Sementara itu, ada siswa lain yang mampu duduk tenang hingga pelajaran
berakhir.
Situasi seperti ini sering membuat guru merasa lelah. Ketika guru
sedang menjelaskan materi, siswa justru terlihat tidak fokus, mengganggu teman,
atau sibuk dengan dunianya sendiri. Tak jarang, mereka langsung dianggap
sebagai anak yang nakal, malas belajar, atau sulit diatur.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, mengapa ada siswa
yang tidak betah duduk diam di dalam kelas?
Setiap Anak Memiliki Cara Belajar yang Berbeda
Tidak semua siswa mampu belajar dengan cara yang sama. Ada anak yang
mudah memahami pelajaran dengan mendengarkan penjelasan guru, tetapi ada pula
yang lebih mudah memahami materi melalui praktik, gerakan, permainan, dan
kegiatan langsung.
Bagi sebagian siswa, duduk diam dalam waktu yang lama bisa terasa
membosankan. Mereka membutuhkan variasi kegiatan agar tetap bersemangat
mengikuti pembelajaran.
Ada juga siswa yang sedang menghadapi masalah pribadi, merasa cemas,
kurang tidur, kesulitan memahami pelajaran, atau membutuhkan perhatian lebih.
Kegelisahan yang terlihat di dalam kelas terkadang menjadi cara mereka
menunjukkan bahwa ada sesuatu yang sedang mereka alami.
Tentu saja, tidak semua perilaku gelisah memiliki penyebab yang sama. Ada
yang disebabkan oleh masalah pribadi, ada yang disebabkan oleh masalah
keluarga, ada yang disebabkan oleh masalah dengan teman atau penyebab lainnya. Karena
itu, kita perlu mengenali anak terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian.
Jangan Hanya Meminta Mereka Diam
Kalimat seperti, "Duduk yang tenang!", "Jangan
mengganggu teman!", atau "Kamu tidak bisa diam, ya?" mungkin
sering kita ucapkan ketika menghadapi siswa yang sulit berkonsentrasi. Teguran
memang terkadang diperlukan. Namun, jika hanya teguran yang diberikan tanpa
memahami penyebab perilakunya, masalah yang sama bisa terus berulang.
Cobalah sesekali mengubah pendekatan. Berikan kesempatan kepada siswa
untuk bergerak secara terarah, libatkan mereka dalam diskusi, gunakan permainan
edukatif, atau berikan tugas sederhana yang membuat mereka aktif.
Guru juga dapat menyisipkan kegiatan peregangan singkat di sela-sela
pembelajaran. Dengan demikian, siswa tetap memiliki kesempatan untuk bergerak
tanpa mengganggu proses belajar. Yang tidak kalah penting, ajaklah siswa
berbicara secara pribadi. Tanyakan dengan lembut apa yang membuat mereka sulit
mengikuti pelajaran. Terkadang, sebuah pertanyaan sederhana dapat membuka
cerita yang selama ini mereka simpan.
Memahami Sebelum Menghakimi
Setiap anak datang ke sekolah dengan membawa cerita yang berbeda. Ada
yang datang dengan hati gembira, ada yang sedang menghadapi masalah keluarga,
ada yang merasa tidak percaya diri, dan ada pula yang belum menemukan cara
belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.
Di sinilah peran guru bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai
pendamping yang membantu siswa mengenali dirinya sendiri.
Guru Bimbingan dan Konseling dapat bekerja sama dengan guru mata
pelajaran dan orang tua untuk mengamati pola perilaku siswa, mengenali situasi
yang memicu kegelisahan, serta menentukan pendampingan yang sesuai apabila
perilaku tersebut terus mengganggu proses belajar.
Jika kesulitan duduk tenang terjadi secara terus-menerus, muncul di
berbagai situasi, dan berdampak pada kehidupan sehari-hari, siswa mungkin
memerlukan penilaian lebih lanjut oleh tenaga profesional. Kita tidak perlu
terburu-buru memberikan label tertentu kepada mereka. Ingatlah, memahami bukan
berarti membiarkan. Siswa tetap perlu belajar tentang disiplin, menghargai
orang lain, dan mengikuti aturan kelas. Namun, semua itu dapat diajarkan dengan
cara yang tegas, sabar, dan penuh penghargaan.
Kelas yang Nyaman, Anak yang Lebih Bersemangat
Bayangkan sebuah kelas tempat siswa tidak hanya diminta duduk diam,
tetapi juga diberi kesempatan bertanya, bergerak, berkreasi, dan menyampaikan
pendapat. Kelas yang memberikan ruang bagi siswa untuk aktif sekaligus
mengajarkan mereka bertanggung jawab.
Bukankah pembelajaran akan terasa lebih bermakna ketika siswa merasa
diterima dan dilibatkan?
Tugas guru bukan sekadar menciptakan kelas yang tenang, melainkan
membangun suasana belajar yang membuat siswa merasa aman, nyaman, dan
bersemangat untuk berkembang.
Sebab, anak yang terlihat sulit diatur belum tentu tidak mau belajar.
Bisa jadi, ia hanya membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Mari belajar melihat perilaku siswa bukan semata-mata sebagai masalah,
melainkan sebagai kesempatan untuk memahami kebutuhan mereka.
Karena terkadang, di balik seorang anak yang sulit duduk diam, ada
potensi besar yang belum menemukan ruang untuk tumbuh.
Jangan terburu-buru menyebut anak nakal hanya karena ia tidak bisa
duduk diam. Cobalah mendekat, mendengarkan, dan memahami apa yang sedang ia
butuhkan.
Anak tidak selalu membutuhkan lebih banyak teguran. Terkadang, mereka
membutuhkan orang dewasa yang mau memahami sebelum menghakimi.




