Ada banyak hal baik yang kita lakukan setiap hari. Membantu teman, memberi perhatian, mendengarkan seseorang yang sedang sedih, atau sekadar memberikan senyum kepada orang lain. Namun, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri : Apakah kita melakukan semua itu karena benar-benar tulus, atau karena ingin dihargai ?
Ketulusan tidak selalu terlihat. Bahkan, sering kali ketulusan hadir
dalam hal-hal kecil yang tidak diketahui siapa pun.
Ketulusan Tidak Membutuhkan Tepuk Tangan
Orang yang tulus tidak terlalu sibuk memikirkan apakah kebaikannya akan
dibalas atau dilihat oleh orang lain. Ia membantu karena ingin membantu. Ia
peduli karena memang peduli. Ia memberi karena ingin meringankan, bukan agar
dipuji.
Terkadang kita berbuat baik, tetapi tidak mendapatkan ucapan terima
kasih. Bahkan, ada kalanya kebaikan kita justru dilupakan. Sebab, nilai sebuah
kebaikan tidak selalu ditentukan oleh bagaimana orang lain membalasnya.
Ada Kebaikan yang Cukup Diketahui Tuhan
Tidak semua kebaikan harus diceritakan. Ada orang yang diam-diam
membantu keluarganya. Ada yang tetap tersenyum meski sedang memiliki masalah. Ada
yang menyemangati orang lain, padahal dirinya sendiri sedang membutuhkan
semangat.
Mereka mungkin tidak mendapatkan penghargaan. Namun, ketulusan tidak
selalu membutuhkan penghargaan dari manusia. Ada kebaikan yang cukup menjadi
rahasia antara diri kita dan Tuhan. Dan mungkin, justru kebaikan yang dilakukan
tanpa ingin dilihat siapa pun adalah kebaikan yang paling indah.
Ketulusan Membuat Hati Lebih Tenang
Ketika kita melakukan sesuatu dengan tulus, kita tidak terlalu sibuk
menghitung apa yang sudah kita berikan dan apa yang akan kita terima. Kita
belajar untuk tidak kecewa ketika kebaikan tidak dibalas. Kita belajar menerima
bahwa tidak semua orang akan memahami perjuangan kita. Dan kita belajar bahwa
menjadi baik tidak harus selalu mendapatkan pengakuan. Berbuat baiklah karena
memang ingin menjadi orang baik, bukan karena ingin terlihat baik.
Tetap Tulus, Meski Pernah Kecewa
Mungkin pernah ada seseorang yang membuat kita berpikir, “Untuk apa aku
berbuat baik kalau akhirnya aku disakiti?”
Perasaan itu manusiawi. Tetapi jangan biarkan satu kekecewaan mengubah
hati kita menjadi keras. Jika pernah disakiti, belajarlah. Jika pernah
dikecewakan, jadilah lebih bijaksana. Namun, jangan kehilangan ketulusan. Karena dunia tidak membutuhkan lebih banyak
orang yang pandai terlihat baik. Dunia membutuhkan orang-orang yang tetap
memilih berbuat baik, bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Ketulusan Adalah Tentang Hati
Pada akhirnya, ketulusan bukan tentang seberapa besar kebaikan yang
kita lakukan. Bukan tentang seberapa banyak orang yang memuji kita. Bukan pula
tentang seberapa sering nama kita disebut. Ketulusan adalah tentang hati. Tentang
tetap membantu tanpa berharap balasan. Tetap peduli tanpa menuntut perhatian. Tetap
berbuat baik meski pernah kecewa. Karena bisa jadi, satu kebaikan kecil yang
kita lakukan dengan tulus hari ini menjadi alasan seseorang kembali percaya
bahwa masih ada kebaikan di dunia.
Jadi, tetaplah tulus.
Tidak semua orang akan melihat kebaikanmu. Tidak semua orang akan
menghargai perjuanganmu. Tidak semua kebaikan akan langsung mendapatkan
balasan. Tetapi jangan berhenti menjadi baik. Sebab, kebaikan yang tulus tidak
pernah sia-sia.




