Jumat, 04 September 2026

Ketekunan : Tetap Melangkah Meski Perlahan

Tidak semua perjalanan hidup berjalan mudah. Ada kalanya kita sudah berusaha, tetapi hasilnya belum terlihat. Sudah belajar, tetapi masih merasa belum mampu. Sudah mencoba, tetapi justru mengalami kegagalan. Pada saat seperti itu, kita sering ingin berhenti. Namun, mungkin yang kita butuhkan bukan usaha yang lebih besar, melainkan ketekunan untuk terus melangkah.

Ketekunan adalah kemampuan untuk tetap berusaha meskipun hasil belum sesuai harapan. Tidak harus cepat. Tidak harus sempurna. Yang penting, kita tidak berhenti.

Sedikit Demi Sedikit

Kita sering ingin mendapatkan hasil dengan segera. Padahal, banyak hal baik dalam hidup membutuhkan waktu. Pohon tidak langsung menjadi besar setelah ditanam. Ia membutuhkan air, sinar matahari, dan waktu untuk tumbuh. Begitu juga dengan kita. Belajar sedikit demi sedikit. Berbuat baik sedikit demi sedikit. Memperbaiki diri sedikit demi sedikit.

Mungkin hari ini perubahan itu belum terlihat. Tetapi jika dilakukan terus-menerus, suatu saat kita akan melihat betapa jauh kita sudah berjalan. Jangan meremehkan langkah kecil. Bisa jadi, langkah kecil itulah yang membawa kita menuju sesuatu yang besar.

Ketika Kita Ingin Menyerah

Ada hari-hari ketika kita merasa lelah. Kita bertanya dalam hati, “Mengapa hasilnya belum juga terlihat?”

Jika itu terjadi, tidak apa-apa untuk beristirahat. Tetapi jangan menyerah pada impian hanya karena perjalanan terasa berat. Ingatlah alasan mengapa kita memulai. Mungkin ada cita-cita yang ingin diwujudkan. Mungkin ada orang tua yang ingin kita bahagiakan.
Mungkin ada diri kita di masa depan yang sedang menunggu hasil dari perjuangan hari ini. Tetaplah bertahan. Karena terkadang, kita tidak pernah tahu bahwa keberhasilan mungkin sudah semakin dekat.

Tidak Perlu Membandingkan Diri

Setiap orang memiliki waktunya sendiri. Ada yang berhasil lebih cepat. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Jangan merasa gagal hanya karena perjalanan kita berbeda dengan orang lain.

Bunga mawar dan bunga melati tidak mekar pada waktu yang sama. Namun, keduanya tetap indah ketika waktunya tiba.

Begitu pula dengan kehidupan. Tidak perlu terburu-buru. Teruslah berjalan sesuai kemampuan kita. Yang penting bukan seberapa cepat kita sampai, tetapi seberapa kuat kita bertahan dalam perjalanan.

Ketekunan Akan Mengubah Kita

Mungkin ketekunan tidak langsung memberikan apa yang kita inginkan. Tetapi ketekunan akan mengubah diri kita. Kita menjadi lebih sabar. Lebih kuat.
Lebih disiplin. Lebih menghargai proses. Dan suatu hari nanti, ketika kita melihat kembali perjalanan yang telah dilalui, kita mungkin akan tersenyum dan berkata:

“Ternyata aku mampu melewati semua itu.”

Saat itulah kita menyadari bahwa perjuangan kita tidak sia-sia.

Tetaplah Melangkah

Jika hari ini terasa berat, tidak apa-apa berjalan pelan.

Jika hari ini belum berhasil, coba lagi esok hari.

Jika jatuh, bangkitlah.

Jika lelah, beristirahatlah.

Tetapi jangan berhenti terlalu lama.

Sebab hidup bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai tujuan. Hidup adalah tentang siapa yang mau terus belajar dan berusaha. Ketekunan mungkin membuat langkah kita lambat, tetapi ketekunan membuat kita tetap bergerak. Dan terkadang, orang yang terus berjalan perlahan justru sampai lebih jauh daripada mereka yang berlari tetapi mudah menyerah. Jadi, apa pun yang sedang kita perjuangkan hari ini, tetaplah percaya.

Tidak ada usaha yang benar-benar sia-sia. Teruslah melangkah. Pelan tidak apa-apa. Yang penting, jangan menyerah.

#LombaBlogNasional

#MenulisUntukIndonesia
#LiterasiDigital

Penyelenggara :
Omjay Guru Blogger Indonesia
https://wijayalabs.com

Sponsor :

           

  

Kamis, 03 September 2026

Indahnya Berbagi untuk Sesama

Berbagi tidak selalu tentang seberapa banyak yang kita punya. Terkadang, berbagi hanya membutuhkan hati yang peduli.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berpikir bahwa untuk berbagi kita harus memiliki sesuatu yang lebih. Uang yang banyak, makanan yang berlimpah, atau barang yang bisa diberikan kepada orang lain. Padahal, berbagi tidak selalu harus dalam bentuk materi.

Senyum, perhatian, waktu, tenaga, bahkan sebuah ucapan sederhana seperti “Apa kabar?” juga bisa menjadi bentuk berbagi yang berarti.

 

Berbagi Membuat Hidup Lebih Bermakna

Ada kebahagiaan yang berbeda ketika kita bisa membantu orang lain. Mungkin bantuan yang kita berikan terlihat kecil bagi kita, tetapi bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi orang lain. Memberikan makanan kepada seseorang yang membutuhkan, membantu teman yang sedang kesulitan, mendengarkan cerita seseorang yang sedang memiliki masalah, atau sekadar menemani orang yang merasa sendirian adalah bentuk-bentuk kebaikan yang sederhana. Kita mungkin tidak selalu menyadari dampaknya. Namun, kebaikan kecil yang kita lakukan bisa menjadi alasan seseorang kembali tersenyum.

Tidak Harus Menunggu Kaya untuk Berbagi

Sering kali kita berkata, “Nanti kalau sudah punya banyak, saya akan berbagi.”

Padahal, berbagi tidak harus menunggu kita menjadi kaya. Kita bisa berbagi sesuai kemampuan. Jika tidak mampu memberikan uang, kita bisa memberikan tenaga. Jika tidak memiliki banyak waktu, kita bisa memberikan perhatian. Jika tidak memiliki sesuatu untuk diberikan, kita masih bisa memberikan senyuman dan kata-kata yang baik. Karena yang membuat sebuah pemberian menjadi berharga bukan hanya nilainya, tetapi ketulusan di balik pemberian tersebut.

Berbagi Tidak Membuat Kita Kekurangan

Sebagian orang mungkin takut berbagi karena khawatir apa yang dimilikinya akan berkurang. Namun, ada banyak hal yang justru terasa semakin bertambah ketika dibagikan. Kasih sayang, ilmu, perhatian, semangat, dan kebaikan adalah contoh sederhana.

Ketika kita berbagi ilmu, orang lain menjadi lebih pintar. Ketika kita berbagi semangat, seseorang bisa kembali percaya diri. Ketika kita berbagi kasih sayang, seseorang merasa tidak sendirian.

Bukankah indah jika sesuatu yang kita miliki bisa membuat kehidupan orang lain menjadi sedikit lebih baik?

 

Berbagi Mengajarkan Kita untuk Bersyukur

Berbagi juga mengajarkan kita untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Ketika kita membantu seseorang yang sedang mengalami kesulitan, kita menjadi lebih sadar bahwa masih banyak hal yang patut disyukuri dalam hidup kita.

Kita belajar bahwa kebahagiaan bukan hanya tentang memiliki banyak hal, tetapi juga tentang mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Terkadang, kita terlalu sibuk mengejar apa yang belum kita miliki sampai lupa mensyukuri apa yang sudah ada.

Berbagi mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang “apa yang bisa saya dapatkan?”, tetapi juga “apa yang bisa saya berikan?”

 

Mulailah dari Hal-Hal Kecil

Tidak perlu menunggu kesempatan besar untuk berbuat baik.

Mulailah dari lingkungan terdekat.

Senyum kepada orang yang kita temui. Membantu orang tua di rumah. Menolong teman yang kesulitan. Berbagi makanan. Mendengarkan seseorang yang sedang bercerita. Mengucapkan terima kasih. Memberikan apresiasi kepada orang lain.

Hal-hal kecil tersebut mungkin tampak sederhana, tetapi jika dilakukan dengan tulus, bisa memberikan dampak yang besar.

Bayangkan jika setiap orang melakukan satu kebaikan setiap hari. Betapa hangatnya kehidupan jika kebaikan dilakukan bersama-sama.

 

Berbagi Adalah Cara Menebarkan Kebahagiaan

Kebaikan itu menular. Ketika seseorang mendapatkan pertolongan, ia bisa terdorong untuk melakukan hal yang sama kepada orang lain. Dari satu orang kemudian berpindah kepada orang berikutnya. Dari satu kebaikan lahir kebaikan lainnya. Itulah indahnya berbagi.

Kita tidak pernah tahu sejauh mana kebaikan kecil kita akan berjalan. Mungkin hari ini kita membantu seseorang, kemudian suatu hari orang tersebut membantu orang lain. Dengan begitu, kebaikan terus bergerak dan menjadi bagian dari kehidupan banyak orang.

 

Berbagi Itu Indah

Pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi juga tentang seberapa banyak manfaat yang bisa kita berikan. Tidak perlu menjadi orang kaya untuk berbagi. Tidak perlu menunggu memiliki banyak untuk peduli.

Berbagilah dengan apa yang kita punya, sesuai dengan kemampuan dan dengan hati yang tulus.

Sebab terkadang, sesuatu yang sederhana bagi kita bisa menjadi sangat berarti bagi orang lain.

Satu senyum mungkin terlihat kecil.

Satu kata penyemangat mungkin terdengar sederhana.

Satu bantuan mungkin terasa biasa.

Tetapi bagi seseorang yang sedang membutuhkan, semua itu bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Mari berbagi. Mari peduli. Mari menjadi alasan bagi orang lain untuk tersenyum.

Karena sesungguhnya, indahnya hidup bukan hanya ketika kita bahagia, tetapi ketika kita mampu membuat orang lain merasakan kebahagiaan melalui kebaikan yang kita berikan.


#LombaBlogNasional
#MenulisUntukIndonesia
#LiterasiDigital

Penyelenggara :
Omjay Guru Blogger Indonesia
https://wijayalabs.com

Sponsor :

           

  

Rabu, 02 September 2026

Makna Bersahaja: Belajar Menikmati Hidup dengan Sederhana

Di tengah kehidupan yang semakin cepat, kita sering merasa harus memiliki lebih banyak untuk bisa merasa bahagia. Rumah yang lebih besar, pekerjaan yang lebih baik, barang-barang yang lebih mahal, atau pengakuan dari orang lain terkadang menjadi ukuran keberhasilan.

Padahal, kebahagiaan tidak selalu datang dari sesuatu yang besar. Ada kalanya kebahagiaan justru tumbuh dari hal-hal sederhana. Dari secangkir kopi di pagi hari, percakapan bersama keluarga, senyum seorang teman, atau rasa syukur karena masih diberi kesempatan menjalani hari. Di situlah kita belajar tentang makna bersahaja.

Bersahaja Bukan Berarti Kekurangan

Bersahaja sering dipahami sebagai hidup sederhana. Namun, sederhana bukan berarti hidup dalam kekurangan atau tidak boleh memiliki impian.

Bersahaja adalah kemampuan untuk menjalani hidup dengan apa adanya, tanpa harus berlebihan dan tanpa merasa perlu membandingkan diri dengan orang lain.

Orang yang bersahaja bukan berarti tidak ingin sukses. Ia tetap memiliki cita-cita, bekerja keras, dan berusaha menjadi lebih baik. Namun, ia tidak menjadikan materi, pujian, atau penilaian orang lain sebagai satu-satunya ukuran kebahagiaan. Ia tahu kapan harus berusaha dan kapan harus merasa cukup.

Tidak Harus Selalu Terlihat Hebat

Di zaman media sosial, kita sering melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Ada yang berlibur ke tempat indah, memiliki pekerjaan yang keren, membeli barang baru, atau mencapai berbagai prestasi. Tanpa disadari, kita kemudian membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan mereka.

Padahal, apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Kita tidak pernah benar-benar tahu perjuangan, kegagalan, dan masalah yang mereka hadapi. Bersahaja mengajarkan kita untuk tidak sibuk membuktikan bahwa hidup kita lebih hebat daripada orang lain. Kita tidak harus selalu terlihat sukses. Tidak harus selalu mendapatkan pujian. Tidak harus selalu menjadi yang paling unggul. Cukup menjadi diri sendiri dan menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.

Bersyukur atas Hal-Hal Kecil

Salah satu bagian penting dari hidup bersahaja adalah belajar bersyukur. Sering kali kita terlalu fokus pada sesuatu yang belum dimiliki hingga lupa menghargai apa yang sudah ada. Kita ingin mendapatkan lebih banyak, tetapi lupa bahwa masih ada banyak hal yang layak disyukuri.

Kesehatan, keluarga, teman, pekerjaan, kesempatan belajar, waktu bersama orang-orang yang kita sayangi, bahkan kesempatan untuk bangun dan memulai hari adalah anugerah yang terkadang kita anggap biasa. Bersahaja membuat kita lebih peka terhadap kebahagiaan kecil. Kita belajar bahwa secukupnya bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti ketika disertai rasa syukur.

Bersahaja dalam Bersikap

Kesederhanaan bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi juga tentang bagaimana kita bersikap. Orang yang bersahaja tidak merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain. Ia mampu menghargai siapa saja, baik yang memiliki banyak maupun yang hidup sederhana. Ia tidak malu mengakui kesalahan. Tidak gengsi meminta maaf. Tidak merasa harus selalu menang dalam setiap perdebatan. Bersahaja membuat seseorang lebih rendah hati.

Karena pada akhirnya, nilai seseorang bukan ditentukan oleh seberapa mahal pakaian yang dikenakan, seberapa tinggi jabatan yang dimiliki, atau seberapa banyak harta yang dikumpulkan. Nilai seseorang lebih terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang lain.

Belajar Merasa Cukup

Merasa cukup bukan berarti berhenti berkembang. Merasa cukup berarti mampu menikmati apa yang sudah dimiliki sambil tetap berusaha mencapai sesuatu yang lebih baik. Kita boleh memiliki cita-cita tinggi. Kita boleh ingin sukses. Kita boleh bekerja keras untuk kehidupan yang lebih baik.

Namun, jangan sampai keinginan untuk mendapatkan lebih membuat kita kehilangan ketenangan. Sebab, jika kebahagiaan selalu bergantung pada sesuatu yang belum kita miliki, kita akan terus merasa kurang.

Hari ini ingin memiliki sesuatu. Setelah mendapatkannya, kita menginginkan yang lain. Begitu seterusnya. Bersahaja mengajarkan kita untuk berkata dalam hati, “Aku akan terus berusaha, tetapi aku juga akan menghargai apa yang sudah Tuhan berikan kepadaku.”

Hidup Sederhana, Hati Lebih Tenang

Hidup yang bersahaja bukan berarti hidup tanpa masalah. Setiap orang tetap memiliki persoalan dan tantangannya masing-masing. Namun, kesederhanaan dapat membantu kita menjalani kehidupan dengan lebih tenang. Kita tidak terlalu sibuk mengejar pengakuan. Tidak terlalu lelah membandingkan diri. Tidak terlalu takut dianggap kurang oleh orang lain.

Kita mulai memahami bahwa hidup bukan perlombaan. Setiap orang memiliki jalan, waktu, dan cerita masing-masing. Ada yang berhasil lebih cepat. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang berjalan dengan penuh kemudahan, sementara yang lain harus melewati banyak perjuangan. Tidak apa-apa. Yang penting adalah tetap berjalan, tetap belajar, dan tetap menjadi manusia yang baik.

Bersahaja adalah tentang menemukan kebahagiaan tanpa harus hidup berlebihan.

Bersahaja berarti menikmati kehidupan dengan penuh syukur, menghargai hal-hal kecil, tidak mudah membandingkan diri, dan mampu merasa cukup tanpa kehilangan semangat untuk berkembang. Mungkin kita tidak memiliki segala sesuatu yang kita inginkan. Tetapi bukan berarti kita tidak memiliki sesuatu yang berharga.

Terkadang, hidup yang sederhana justru menyimpan kebahagiaan yang paling tulus. Karena hidup bukan tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi tentang seberapa mampu kita mensyukuri, menikmati, dan memberi makna pada apa yang kita miliki.

Hiduplah sederhana, bersikaplah rendah hati, dan jangan lupa bersyukur. Sebab ketenangan hati sering kali tidak ditemukan dalam kemewahan, tetapi dalam kemampuan untuk merasa cukup. 


#LombaBlogNasional
#MenulisUntukIndonesia
#LiterasiDigital

Penyelenggara :
Omjay Guru Blogger Indonesia
https://wijayalabs.com

Sponsor :

           

  

Selasa, 01 September 2026

Hidup Sederhana, Hati Lebih Bahagia

Di zaman sekarang, banyak orang berlomba menunjukkan apa yang dimiliki. Hidup sederhana mungkin terlihat biasa saja, tidak banyak dipamerkan, tidak selalu mengikuti tren, dan tidak sibuk membuktikan sesuatu kepada orang lain. Namun, justru dalam kesederhanaan sering kali kita menemukan sesuatu yang sulit dibeli dengan uang ketenangan dan kebahagiaan.

Kita sering mengira bahagia itu ketika memiliki rumah yang besar, kendaraan yang bagus, pekerjaan yang mapan, atau bisa membeli apa saja yang kita inginkan. Padahal, semakin banyak yang kita kejar, terkadang semakin banyak pula yang membuat hati merasa kurang.

Kesederhanaan mengajarkan kita sejenak dan bertanya : “Apakah yang saya miliki hari ini sebenarnya sudah cukup?”

Sederhana Bukan Berarti Kekurangan

Hidup sederhana bukan berarti hidup dalam kekurangan. Sederhana adalah kemampuan untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Kita boleh memiliki sesuatu yang baik. Kita boleh menikmati hasil kerja keras. Tetapi kita tidak harus memiliki semuanya hanya karena orang lain memilikinya.

Sederhana berarti membeli sesuatu karena memang dibutuhkan, bukan karena ingin terlihat lebih dari orang lain. Sederhana juga berarti mampu menikmati makanan rumahan, berbincang bersama keluarga, berjalan-jalan tanpa kemewahan, dan merasa cukup dengan apa yang ada.

Karena terkadang, yang membuat hidup terasa berat bukan karena kita memiliki terlalu sedikit, tetapi karena kita menginginkan terlalu banyak.

Kebahagiaan Tidak Selalu Mahal

Ada kebahagiaan yang tidak membutuhkan banyak uang. Secangkir teh bersama pasangan.
Tawa anak-anak di ruang keluarga. Makan bersama tanpa tergesa-gesa.
Menyapa tetangga. Berjalan pagi sambil menikmati udara segar. Atau sekadar duduk tenang setelah menyelesaikan pekerjaan. Hal-hal kecil seperti itu sering kita abaikan karena terlihat sederhana. Padahal, ketika suatu hari kita kehilangan kesempatan untuk menikmatinya, kita baru menyadari bahwa kebahagiaan ternyata selama ini begitu dekat.

Ajarkan Kesederhanaan kepada Anak

Kesederhanaan juga merupakan nilai penting yang perlu dikenalkan kepada anak sejak dini. Anak tidak harus selalu mendapatkan apa yang mereka minta. Mereka perlu belajar bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi. Ajarkan mereka untuk menghargai makanan, merawat barang yang dimiliki, berbagi dengan orang lain, dan mengucapkan terima kasih. Lebih dari sekadar nasihat, anak belajar dari apa yang mereka lihat.

Ketika orang tua tidak berlebihan dalam berbelanja, tidak sibuk membandingkan kehidupan dengan orang lain, dan mampu bersyukur atas apa yang dimiliki, anak pun belajar bahwa hidup tidak harus mewah untuk menjadi bahagia.

Kesederhanaan Membuat Kita Lebih Bersyukur

Orang yang sederhana bukan berarti tidak memiliki impian.  Ia tetap memiliki cita-cita, bekerja keras, dan berusaha menjadi lebih baik. Bedanya, ia tidak menjadikan apa yang belum dimiliki sebagai alasan untuk tidak bahagia.

Ia mampu berkata: “Saya ingin lebih, tetapi saya juga bersyukur dengan apa yang sudah saya miliki.”

Inilah yang membuat hati menjadi lebih tenang. Kita tetap boleh mengejar kesuksesan, tetapi jangan sampai kehilangan rasa syukur dalam perjalanan menuju kesuksesan itu.

Tidak Perlu Membuktikan Diri kepada Semua Orang

Salah satu bentuk kesederhanaan yang paling indah adalah ketika kita tidak lagi merasa harus menunjukkan segala sesuatu kepada orang lain. Tidak semua keberhasilan harus diumumkan.

Tidak semua kebaikan harus dipuji. Tidak semua kebahagiaan harus dipamerkan.

Ada hal-hal yang justru menjadi lebih bermakna ketika cukup kita dan orang-orang terdekat yang mengetahuinya. Sebab, hidup bukan perlombaan untuk terlihat paling berhasil. Setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda.

Mulailah dari Hal-Hal Kecil

Kesederhanaan tidak perlu dimulai dengan perubahan besar. Mulailah dari rumah. Gunakan barang secukupnya. Belanja sesuai kebutuhan. Kurangi membandingkan diri dengan orang lain.
Luangkan waktu bersama keluarga. Nikmati makanan yang ada.Belajar bersyukur.
Dan jangan takut terlihat sederhana. Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa damai hati kita dalam menjalaninya.

Dunia mungkin terus mengajarkan kita untuk memiliki lebih banyak. Lebih banyak uang. Lebih banyak barang. Lebih banyak pengakuan.Lebih banyak pencapaian. Tetapi hati kita juga membutuhkan sesuatu yang berbeda:

lebih banyak rasa syukur, lebih banyak waktu bersama orang tercinta, dan lebih banyak ketenangan.

Hidup sederhana bukan tentang memiliki sedikit. Hidup sederhana adalah tentang mampu merasa cukup.

Sebab terkadang, setelah kita berhenti mengejar begitu banyak hal, kita baru menyadari bahwa kebahagiaan yang kita cari ternyata sudah ada di depan mata.

#LombaBlogNasional
#MenulisUntukIndonesia
#LiterasiDigital

Penyelenggara :
Omjay Guru Blogger Indonesia
https://wijayalabs.com

Sponsor :

           

  


Senin, 31 Agustus 2026

Santunan Nasional dalam rangka Tasyakuran Maulid Nabi Muhammad SAW.

Pada hari ini, Senin, 31 Agustus 2026 M bertepatan dengan tanggal 17 Rabiul Awwal 1448 H, warga Thoriqoh Shiddiqiyyah Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung melaksanakan kegiatan Santunan Nasional Ke-22 sekaligus Penyampaian Rumah Syukur Layak Huni Shiddqiyyah yang dilaksanakan di Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah yang terletak di Dusun Sumbertengah Pekon Tekad Kecamatan Pulaupanggung Kabupaten Tanggamus. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka Tasyakuran Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Ulang Tahun Dhibra Shiddiqiyyah Ke-26. Kegiatan ini dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia.

Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh warga Thoriqoh Shiddiqiyyah Kabupaten Tanggamus yang berasaldari beberapa kecamatan dan juga dihadiri oleh jama’ah pengajian Dusun Sumbertengah, aparat desa Tekad, Uspika Kecamatan Pulaupanggung, Kapolsek, Danramil dan Kepala KUA kecamatan Pulaupanggung. Pada kegiatan tersebut ada sejumlah 72 paket  Santunan Nasional diberikan kepada anak yatim dan fakir miskin. Beberapa orang diberikan secara simbolis di tempat acara, sedangkan yang lainnya diantarkan ke rumah orang yang berhak menerimanya.

Setelah Penyampaian Santunan nasional dilanjutkan dengan Penyampaian Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah yang dibangun oleh warga Thoriqoh Shiddiqiyyah dalam rangka mensyukuri Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia ke-81. Rumah Syukur tersebut dipersembahkan kepada Bapak Sumardi warga Dusun Sumbertengah Desa Tekad Kecamatan Pulaupanggung.

Semoga kegiatan ini senantiasa memberikan manfaat bagi warga masyarakat Indonesia yang membutuhkan.

#LombaBlogNasional
#MenulisUntukIndonesia
#LiterasiDigital

Penyelenggara :
Omjay Guru Blogger Indonesia
https://wijayalabs.com

Sponsor :

           

  

Minggu, 30 Agustus 2026

Kebiasaan Kecil yang Membuat Anak Merasa Dicintai

 Anak tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar untuk merasa dicintai. Kadang, hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari justru menjadi kenangan yang paling mereka ingat.

Sebagai orang tua, kita tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Kita bekerja keras, memenuhi kebutuhan mereka, membayar sekolah, menyediakan makanan, pakaian, dan berbagai fasilitas.

Namun, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri : “Apakah anakku benar-benar merasa dicintai?”

Memberikan kebutuhan anak memang penting. Tetapi anak juga membutuhkan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang, yaitu perhatian, waktu, sentuhan, dan rasa diterima. Untuk membuat anak merasa dicintai, kita tidak harus melakukan hal-hal besar. Ada kebiasaan kecil yang bisa kita lakukan setiap hari.

1. Menyapa Anak dengan Senyum

Ketika anak pulang sekolah, cobalah menyambutnya dengan senyuman. Tidak harus dengan pertanyaan panjang. Cukup dengan: “Sudah pulang, Nak?” atau “Bagaimana harimu hari ini?”

Sapaan sederhana membuat anak merasa bahwa kehadirannya ditunggu dan dirindukan di rumah.


2. Mendengarkan Cerita Mereka

Terkadang cerita anak terdengar sepele bagi kita. Tentang teman sebangku. Tentang guru. Tentang tugas sekolah. Tentang pertandingan olahraga. Tentang seseorang yang membuat mereka kesal. Tetapi bagi anak, cerita itu penting. Jangan buru-buru memberikan nasihat. Dengarkan terlebih dahulu. Letakkan ponsel sejenak dan tatap mata mereka. Karena terkadang anak tidak membutuhkan solusi. Mereka hanya ingin didengarkan.

 

3. Memberikan Pelukan

Pelukan adalah bahasa kasih sayang yang sederhana, tetapi sangat berarti.

Peluk anak ketika mereka pulang sekolah. Peluk ketika mereka berhasil. Peluk ketika mereka gagal. Bahkan peluk ketika mereka sedang sedih dan tidak ingin bercerita.

Sebuah pelukan bisa mengatakan :“Tidak apa-apa, Nak. Kamu tidak sendirian. Ayah dan Ibu ada di sini.”

 

4. Mengucapkan “Terima Kasih”

Kita sering meminta anak mengucapkan terima kasih. Tetapi jangan lupa mengucapkan terima kasih kepada mereka.

“Terima kasih sudah membantu Ibu.”

“Terima kasih sudah berusaha.”

“Terima kasih sudah mau mendengarkan.”

Anak akan belajar bahwa usaha mereka dihargai. Tidak semua apresiasi harus diberikan karena prestasi besar. Menghargai usaha kecil juga penting.

 5. Tidak Hanya Memuji Nilai

Ketika anak mendapatkan nilai bagus, tentu kita bahagia. Tetapi jangan sampai anak merasa bahwa dirinya hanya berharga ketika mendapatkan prestasi. Ajarkan bahwa keberhasilan bukan hanya tentang menjadi yang terbaik, tetapi juga tentang berani mencoba, bertanggung jawab, dan tidak mudah menyerah.

Sesekali katakan: “Ibu bangga karena kamu sudah berusaha.”

Bukan hanya: “Berapa nilaimu?”

 

6. Luangkan Waktu Tanpa Gadget

Perkembangan zaman yang semakin canggih membuat semua orang sibuk dengan gadget, baik itu orangtua, anak muda, anak kecil, dan bahkan anak balita pun sudah mengenal gadget. Hal ini membuat komunikasi antara orangtua dan anak menjadi jauh. Terkadang mereka duduk berdekatan namun semuanya sibuk dengan gadgetnya masing-masing tanpa ada komunikasi.

Meluangkan waktu orangtua dengan anak tanpa gadget sangatlah penting. Tidak perlu berjam-jam. Lima belas menit saja bisa sangat berarti. Duduk bersama. Minum teh. Makan bersama. Berjalan sebentar atau sekadar berbincang sebelum tidur. Yang penting, selama beberapa menit itu, anak mendapatkan perhatian penuh dari orang tua.

Kadang anak tidak membutuhkan waktu yang lama. Mereka hanya membutuhkan waktu yang benar-benar berkualitas.

 

7. Katakan “Ayah dan Ibu Sayang Kamu”

Orangtua sering beranggapan bahwa anak sudah tahu bahwa kita menyayanginya sehingga orangtua jarang bahkan tidak pernah mengungkapkannya dengan perkataan. Padahal anak sangat membutuhkannya. Anak yang sering mendengar ungkapan kasih sayang akan memiliki rasa aman bahwa dirinya dicintai dan diterima.

Katakan dan ucapkan secara langsung bahwa “Ayah sayang kamu.” “Bunda bangga punya kamu.” “Apa pun yang terjadi, kamu tetap anak yang sangat berarti bagi kami.”

 

8. Minta Maaf Ketika Kita Salah

Setiap orang pernah berbuat salah. Orang tua juga bisa salah. Ketika kita terlalu keras, terbawa emosi, atau mengatakan sesuatu yang menyakiti hati anak, jangan gengsi untuk meminta maaf. Permintaan maaf tidak membuat wibawa orang tua hilang.  Justru anak belajar bahwa hubungan yang sehat membutuhkan keberanian untuk mengakui kesalahan.

Katakan : “Maaf ya, Nak. Tadi Ayah terlalu emosi.”

9. Jadikan Rumah Tempat yang Aman untuk Bercerita

Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang anak menghadapi masalah, seperti masalah pertemanan, masalah sekolah, kegagalan, kekecewaan, bahkan mungkin masalah yang tidak pernah kita bayangkan. Saat itu, anak sangat membutuhkan tempat yang aman untuk bercerita. Yang paling kita harapkan adalah mereka datang kepada kita untuk menceritakan segala permasalahannya.

Karena itu, sejak sekarang bangun kebiasaan sederhana : Jangan langsung menghakimi ketika anak bercerita. Tapi dengarkan, pahami, kemudian bantu mereka mencari jalan keluar. Biarkan anak merasa bahwa rumah bukan tempat untuk takut ketika melakukan kesalahan. Rumah adalah tempat untuk pulang.

Anak Akan Tumbuh, Tetapi Kenangan Akan Tinggal

Anak-anak kita tidak akan selamanya kecil. Suatu hari mereka akan tumbuh dewasa. Mereka akan sibuk dengan sekolah, pekerjaan, teman, dan kehidupannya sendiri. Mungkin suatu saat mereka tidak lagi meminta dipeluk. Tidak lagi meminta ditemani. Tidak lagi bercerita panjang tentang hal-hal kecil.

Karena itu, selagi masih ada kesempatan, mari hadir untuk mereka. Tidak harus dengan hadiah mahal. Tidak harus dengan liburan mewah. Tidak harus dengan sesuatu yang besar. Tapi dengan senyum, pelukan, mendengarkan, mengucapkan terima kasih, mengatakan “Ayah dan Ibu sayang kamu”, atau hal-hal kecil lainnya.

Hal-hal kecil itu mungkin terlihat sederhana hari ini. Tetapi bagi seorang anak, bisa jadi itulah kenangan yang mereka bawa sampai dewasa. Karena pada akhirnya, anak mungkin tidak mengingat semua yang pernah kita belikan. Tetapi mereka akan mengingat bagaimana perasaan mereka ketika berada di dekat kita. Maka, mari jadikan rumah sebagai tempat pertama di mana anak merasa dicintai, diterima, dan selalu memiliki tempat untuk pulang.


#LombaBlogNasional
#MenulisUntukIndonesia
#LiterasiDigital

Penyelenggara :
Omjay Guru Blogger Indonesia
https://wijayalabs.com

Sponsor :