Minggu, 07 November 2021

Kiat Menulis Buku Fiksi

 

Pertemuan 11

Hari/Tanggal            :     Rabu, 27 Oktober 2021

Materi                      :     Kiat Menulis Cerita Fiksi
Nara Sumber           :     Sudomo, S.Pt.
Moderator               :     Dail Ma’ruf
Penulis                    :     Fatmawati, S.Pd.

Alhamdulillah hari ini bisa mengikuti pelatihan belajar menulis pertemuan  11 tentang Kiat menulis Cerita Fiksi yang disampaikan oleh Bapak Sudomo, S.Pd. seorang Guru IPA SMP Negeri 3 Lingsar Lombok Barat yang memiliki banyak prestasi dan kaya buku baik buku antologi maupun buku solo.

Cerita fiksi merupakan sebuak karya sastra yang berisi cerita rekaan dan khayalan yang berasal dari imajinasi penulis yang bisa bermanfaat sebagai hiburan dan sarana untuk memetik nilai kebaikkan.

Ada beberapa alas an yang menyebabkan pentingnya belajar menulis cerita fiksi diantaranya salah satu aspek yang dinilai dalam Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) adalah Literasi Teks Fiksi; Menulis cerita fiksi dapat digunakan sebagai cara menemukan passion dalam bidang kepenulisan, sebagai upaya menyembunyikan dan menyembuhkan diri serta sebagai jalan mengeksplorasi kemampuan menulis.

Ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi untuk bisa menulis cerita fiksi, yaitu :

1.    Komitmen dan niat yang kuat  

2.    Kemauan dan kemampuan melakukan Riset

3.    Banyak membaca cerita fiksi

4.    Mempelajari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)  

5.    Memahami dasar-dasar menulis cerita fiksi

6.    Menjaga konsistensi menulis


Bentuk cerita fiksi bermacam-macam sesuai dengan jumlah katanya yaitu Fiksimini (beberapa kata), Flash Fiction ( Jumlah kata khusus),  Pentigraf (Cerita tiga paragraph), Cerpen (< 7.500 kata) Novelet (7.500 – 17.500 kata), Novela (17.500 – 40.000 kata) dan Novel ( > 40.000 kata)

Unsur-unsur yang harus ada dalam cerita fiksi, yaitu :

1.    Tema

Tema merupakan ide pokok cerita; × Tips menentukan tema antara lain sesuatu yang dekat dengan penulis dan menarik perhatian penulis, bahan mudah diperoleh dan ruang lingkup terbatas. Cara menentukan tema bisa menyesuaikan dengan minat, mengangkat kehidupan nyata, berimajinasi, membaca, dan mendengarkan curahan hati. Contoh Tema: Berkah kejujuran, Pendidikan dan kemiskinan, Pengalaman siswa selama Belajar di Rumah, Perjuangan guru selama Pembelajaran Jarak Jauh.

 

2.    Premis

Premis merupakan ringkasan cerita dalam satu kalimat.  Unsur-unsur premis: meliputi karakter, tujuan tokoh, rintangan/halangan, dan resolus. Membuat premis dapat dilakukan dengan cara tulis masing-masing unsur pembentuknya kemudian rangkai menjadi satu kalimat utuh. Contoh Premis: Seorang anak SD mengajak dua orang temannya melakukan perjalanan ke rumah kakeknya dan berusaha memperoleh pemahaman tentang materi IPA

 

3.    Alur/Plot

Alur/Plot adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita. Macam-macam alur antara lain Alur maju, alur mundur, alur campuran, alur flashback, dan alur kronologis.  Unsur-unsur alur/plot meliputi Pengenalan cerita, Awal konflik, Menuju konflik, Konflik memuncak/klimaks, Penyelesaian/ending. Unsur-unsur alur/plot tersebut urutannya bisa diubah tergantung pada jenis alur yang dipilih.

 

4.    Penokohan

Penokohan adalah penjelasan selangkah demi selangkah penjelasan detail karakter dalam cerita. Macam-macam tokoh antara lain protagonis, antagonis, dan tritagonis; Teknik penggambaran tokoh meliputi  analitik, fisik dan perilaku tokoh, lingkungan tokoh, tata bahasa tokoh, dan penggambaran oleh tokoh lain.


5.    Latar/Setting

Latar/Setting adalah penggambaran waktu, tempat, dan suasana terjadinya peristiwa-peristiwa dalam cerita. Jenis-jenis latar antara lain  latar waktu, latar tempat, latar suasana, latar sosial, latar material, dan latar integral.

 

6.    Sudut Pandang

Sudut Pandang adalah  cara penulis menempatkan dirinya terhadap cerita yang diwujudkan dalam pandangan tokoh cerita. Macam-macam sudut pandang antara lain Orang Pertama Tunggal, Orang Pertama Jamak, Orang Kedua, Orang Ketiga Tunggal, Orang Ketiga Jamak, dan Campuran

 

Bagaimana kiat menulis cerita fiksi ?

Kiat-kiat  menulis cerita fiksi antara lain :

1.    Niat, motivasi diri untuk memulai dan menyelesaikan tulisan.

2.    Baca Fiksi orang lain sebagai upaya menemukan bahan belajar/referensi berupa ide, pemilihan kata, serta gaya dan teknik penulisan.

3.    Ide dan genre. Segera catat saat ide mendadak muncul. Menemukan ide dapat dilakukan dengan cara mengembangkan imajinasi  dan pemilihan genre disesuaikan dengan yang disukai dan dikuasai.

4. Outline merupakan kerangka yang disusun berdasarkan unsur-unsur pembangun cerita fiksi. Menentukan tema agar pembaca mengerti lingkup cerita fiksi kita, Membuat premis sesuai tema , Menentukan uraian alur/plot berdasarkan unsur-unsurnya, Menentukan penokohan kuat berdasarkan jenis dan teknik penggambaran watak tokoh dengan baik, Menentukan latar/setting dengan menunjukkan sisi eksotis dan detail, Memilih sudut pandang penceritaan yang unik

5. Menulis yang terdiri dari membuka cerita dengan baik (dialog, kutipan, kata unik, konflik), melakukan pengenalan tokoh dan latar dengan baik dengan cara memaparkan secara jelas kepada pembaca, Menguatkan sisi konflik internal dan eksternal tokoh, Menggunakan pertimbangan logis agar tidak cacat logika dan memperkuat imajinasi ,  Memilih susunan kalimat yang pendek dan jelas, Memperkuat tulisan dengan pemilihan kata (diksi),  Membuat ending yang baik.

6.  Swasunting. Swasunting dilakukan setelah selesai menulis dan jangan menulis sambil mengedit. Memfokuskan penyuntingan pada kesalahan pengetikan, pemakaian kata baku dan istilah, aturan penulisan, ejaan, dan logika cerita.  Usahakan menempatkan diri pada posisi sebagai penyunting agar tega menyunting tulisan sendiri dan jangan lupa menyiapkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

 Demikian kiat untuk menulis cerita fiksi semoga bermanfaat.

Konsep Buku Non Fiksi

 


Pertemuan 15

Hari/Tanggal      :     Jum’at, 05 November 2021

Tema                  :     Konsep Buku Non Fiksi
Nara Sumber     :     Musiin, M.Pd.
Moderator         :     Ms. Phia
Penulis              :     Fatmawati, S.Pd.

Atas Berkat Rohmat AlLoh Yang Maha Kuasa pada hari ini Jum’at tanggal 05 November 2021 walaupun banyak kegiatan yang harus dilakukan dan harus mengantar anak sulung ke dokter masih dapat mengikuti pelatihan belajar menulis pertemuan ke-15 yang bertemakan “Konsep Buku Non Fiksi”.

Pertemuan ke-15 ini di pandu oleh Ms. Phia  seorang wanita cantik dengan  segudang prestasi yang dimilikinya. Beliau memperkenalkan nara sumber hebat yang akan menyampaikan materi adalah Ibu Musiin, M.Pd. seorang ibu English Teacher dan  Founder Organisasi Masyarakat yang sangat suka membaca, travelling, memasak, penuh ide, suka berinovasi dan semangat berbagi. Walaupun ibunda nara sumber dalam keadaan sakit masih tetap semangat untuk berbagi ilmu pengetahun dengan para peserta pelatihan.

Sebelum menyampaikan materi inti, nara sumber menceritakan pengalamannya bahwa pada awalnya beliau hanya menulis untuk tugas-tugas kuliah maupun untuk tugas dinas. Tidak pernah terpikirkan bahwa saya bisa menulis. Setiap akan menulis terlintas ketakutan yaitu takut tidak ada yang membaca, takut salah dalam menyampaikan pendapat melalui tulisan dan merasa karya orang lain lebih bagus. Dan akhirnya beliau berhasil mengalahkan ketakutan yang dapat merendahkan potensi untuk menulis.

Menurut nara sumber menulis bukanlah keterampilan yang mudah. Berbagai penelitian bahasa menunjukkan di antara empat keterampilan berbahasa, menulis adalah keterampilan yang dianggap paling sulit. Menulis tidak semudah berbicara, semudah bergosip . Justru tantangannya ada karena sulit. Perjuangan menjadi penulis dengan mengikuti kelas menulis, membuat resume, menghasilkan buku, maka akan lahir Cinta Menulis. Sebelum menulis buku, seseorang harus menemukan alasan kuat mengapa ingin menjadi penulis seperti mewariskan ilmu lewat buku, ingin memiliki buku karya sendiri yang bisa terpajang di toko buku online maupun offline, mengembangkan profesi sebagai seorang guru dan lain sebagainya yang tentunya berbeda antara orang yang satu dengan orang lainnya.

Buku Non Fiksi

 Ada 3 pola dalam penulisan buku nonfiksi yaitu :

1.   Pola Hierarkis (Buku disusun berdasarkan tahapan dari mudah ke sulit atau dari sederhana ke rumit)

      Contoh: Buku Pelajaran

2.   Pola Prosedural (Buku disusun berdasarkan urutan proses.

      Contoh: Buku Panduan

3.   Pola Klaster (Buku disusun secara poin per poin atau butir per butir. Pola ini diterapkan  pada buku-buku kumpulan tulisan atau kumpulan bab yang dalam hal ini antarbab setara)

 

Dalam Proses penulisan buku terdiri dari 5  langkah, yakni :

Langkah Pertama : Pratulis

Kegiatan dalam pratulis meliputi :

1.   Menentukan tema.

   Tema bisa ditentukan satu saja dalam sebuah buku. Tema dari buku nonfiksi adalah parenting, pendidikan, motivasi dll.

2.   Menemukan ide

Sebuah ide yang menarik bisa penulis dapatkan dari berbagai hal, contohnya dari pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, berita di media massa, status Facebook/Twitter/Whatsapp/Instagram, imajinasi , mengamati lingkungan, perenungan dan membaca buku

3.   Merencanakan jenis tulisan

4.   Mengumpulkan bahan tulisan.

Referensi berasal dari data dan fakta yang terdiri dari pengetahuan yang diperoleh secara formal, nonformal, atau informal; keterampilan yang diperoleh secara formal , nonformal , atau informal; pengalaman yang diperoleh sejak balita hingga saat ini ; penemuan yang telah didapatkan; pemikiran yang telah direnungkan. Referensi juga bisa berasal dari data atau fakta dari literasi internet

5.   Bertukar pikiran

     Bertukar pikiran dengan orang lain terutama dengan penulis akan menghasilkan wawasan yang kluas dan dapat memunculkan ide-ide yang sebelumnya tidak terpikirkan.

6.   Menyusun daftar

7.   Meriset

8.   Membuat Mind Mapping

9.   Menyusun kerangka

      Untuk dapat menyusun kerangka, terdapat channel youtube yang dapat digunakan sebagai referensi yaitu (https://www.youtube.com/watch?v=eePQwyHAcjw&feature=youtu.be)

      

    Anatomi buku non fiksi  adalah sebagai berikut :

    a.     Halaman Judul

    b.   Halaman Persembahan (OPSIONAL)

    c.      Halaman Daftar Isi

    d.     Halaman Kata Pengantar (OPSIONAL, minta kepada tokoh yang berpengaruh) 

    e.      Halaman Prakata 

    f.      Halaman Ucapan Terima Kasih (OPSIONAL)

    g.     Bagian /Bab

    h.      Halaman Lampiran (OPSIONAL)

    i.       Halaman Glosarium    

    j.        Halaman Daftar Pustaka

    k.       Halaman Indeks 

    l.         Halaman Tentang Penulis

 Langkah Kedua : Menulis Draft

Menulis draft yaitu menuangkan konsep tulisan ke tulisan dengan prinsip bebas dan tidak mementingkan kesempurnaan, tetapi lebih pada bagaimana ide dituliskan

Langkah Ketiga : Merevisi Draft

Merevisi draft yaitu merevisi sistematika/struktur tulisan dan penyajian serta memeriksa gambaran besar dari naskah.

Langkah Keempat : Menyunting Naskah (KBBI dan PUEBI)

Menyunting naskah meliputi ejaan, tata bahasa, diksi, data dan fakta, legalitas dan norma gar sesuai dengan KBBI dan PUEBI.

Langkah Kelima : Menerbitkan

Naskah yang sudah disunting dibawa ke penerbit untuk diterbitkan menjadi sebuah buku.

Hambatan-hambatan dalam menulis

1.   Hambatan waktu
2.   Hambatan kreativitas
3.   Hambatan teknis
4.   Hambatan tujuan
5.   Hambatan psikologis

Bagaimanakah cara mengatasinya? Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi hambatan dalam menulis antara lain :

1.   Banyak membaca

2.   Mencari inspirasi di lingkungan sekitar, orang sekitar atau terkait dengan nara sumber.

3.   Disiplin menulis setiap hari.

4.   Pergi ke pasar dan memasak. Ini menjadi mood booster untuk menulis lagi.

5.   Melakukan hobi dan refresing.

Pesan nara sumber di akhir pertemuan bahwa di tiap chapter hidup kita selalu ada momentum yang tidak akan terulang. Masuk di kelas menulis Om Jay adalah momentum untuk memulai menulis. Pertanyaannya KAPAN LAGI? atau TIDAK SAMA SEKALI.

Semoga kita dapat memanfaatkan momentum ini untuk mengembangkan potensi menulis yang kita miliki. Semoga Aloh SWT selalu membimbing kita. Aaamiin.

Rabu, 03 November 2021

Kelola Jejak Digital yang Baik

 Pertemuan 2 GMLD

Hari/Tanggal            :     Rabu, 03 November 2021

Materi                      :     Yuk Kelola Jejak Digital yang Baik
Nara sumber            :     Dedi Dwigatama
Moderator               :     Helwiyah
Penulis                       :     Fatmawati



Atas Berkat Rohmat Alloh Yang Maha Kuasa pada hari ini Rabu tanggal 03 November 2021 dapat mengikuti pelatihan Guru Motivator Literasi Digital pertemuan yang ke-2. Acara pelatihan dipandu oleh Ibu Helwiyah sebagai moderator. Materi pertemuan kali ini yaitu “Yuk Kelola Jejak Digital yang Baik” disampaikan oleh  nara sumber hebat, sederhana dan bersahaja. Beliau adalah Bapak Dedi Dwitagama seorang guru Matematika di SMK N 50 Jakarta Timur.

Sebelum memulai materi nara sumber meminta peserta pelatihan untuk menyebutkan guru pavorit sejak SD hingga di bangku perkuliahan. Para peserta antusias dengan tantangan tersebut dan masing-masing menuliskan nama guru pavorit masing-masing. Dari sekian banyak jawaban peserta mulai dari professor, hingga guru SD, SMP dan SMA yang dikagumi oleh peserta tidak ada jejak digitalnya karena mereka tidak serius  mengelola jejak digital mereka. Alangkah sangat disayangkan jika prestasi dan kebaikkan mereka hanya dikenang dalam satu masa saja, padahal jika dikelola hal tersebut bisa dilihat dan dikenang serta menginspirasi banyak orang.

Pada zaman dahulu sebelum ada internet, para tokoh-tokoh besar di dunia memang tidak mengenal adanya internet tapi nama mereka terkenal di dunia digital karena ada orang lain yang mengarsipkan cerita dan legenda tentang mereka. Jadi megelola jejak digital bisa dilakukan sendiri atau orang lain. Contohnya menggunakan murid untuk meninggalkan jejak digital di sekolahnya. Menulis kisah orang lain bisa dilakukan dengan cara memulai menulis dengan satu huruf lalu dirangkai jadi kata dilanjutkan menjadi kalimat kemudian ditayangkan jadi buku atau blog.

Mengelola jejak digital bisa dilakukan dimana saja seperti di blog, instagram, facebook, podcast, youtube, wordpress dan lain sebagainya. Semakin banyak jejak digital yang dibuat, semakin mudah mencari diri kita di google. Jejak digital bisa berupa karya tulis, karya foto, karya film, karya lukis, barang-barang kesukaan, cerita tentang keluarga, perilaku kebaikkan dan lain sebagainya. Satu karya bisa ditampilkan dalam berbagai media sosial.


Kita perlu mengelola jejak digital diri kita dengan baik agar prestasi dan segala kebaikkan yang kita miliki dapat dikenang oleh orang lain. Jejak digital bisa menggunakan nama apapun seperti nama asli ataupun nama pena. Akan lebih baik jika menggunakan nama asli karena hal itu yang menunjukkan jati diri kita. Dalam mengelola jejak digital memerlukan kepercayaan diri yang kuat dan menghindari rasa malu. Semakin banyak jejak digital yang dibuat akan membuat seseorang mudah dikenal oleh orang lain karena sekali buka browser dan mengetik nama maka akan banyak bermunculan nama kita di sana dan kemungkinan besar karya kita dapat dinikmati oleh orang lain.

Menulis Terbaik Buku Perpusnas

 


Pertemuan 14

Hari/Tanggal           :     Rabu, 03 November 2021

Materi                     :     Menulis Terbaik Buku Perpusnas
Nara sumber           :     Dr. Mudafiatun Isriyah, M.Pd.
Moderator               :     Aam Nurhasanah
Penulis                    :     Fatmawati, S.Pd.

Atas Berkat Rohmat Alloh Yang Maha Kuasa pada hari ini Rabu tanggal 03 November 2021 dapat mengikuti pelatihan belajar menulis pertemuan ke-14 dengan penuh semangat.

Moderator pada pertemuan kali ini adalah Ibu Aam Nurhasanah dengan gayanya yang khas membuat semua peserta pelatihan belajar menulis semakin bersemangat dan antusias. Nara sumber kali ini  adalah Dr. Mudafiatun Isriyah, M.Pd. yang merupakan dosen di FIP Program Studi Bimbingan dan Konseling Unipar Jember dan merupakan alumni Belajar Menulis gelombang 4. Beliau lebih dikenal dengan Bunda Muda dengan segudang prestasi, peraih penulis buku terbaik perpusnas, dan bukunya kolaborasi dengan Prof. Ekoji dalam tantangan menulis buku satu minggu. Bukunya lolos seleksi penerbit mayor dan mendulang kesuksesan.

Nara sumber menjelaskan bahwa menulis merupakan keterampilan untuk menuangkan ide dan gagasan secara tertulis. Menulis kreatif dapat didefinisikan sebagai proses menulis yang bertumpu pada pengembangan daya cipta dan ekspresi pribadi dalam bentuk tulisan yang baik dan menarik. 

Cara membuat teks deskripsi dari awal

1.    Memilih dan menentukan objek yang akan dibahas.

2.    Menentukan maksud dan tujuan dalam penulisan teks deskripsi.

3.  Mengumpulkan sumber data dan informasi yang dapat membantu menggambarkan objek secara terperinci.

4.    Menyusun kerangka karangan dari data dan informasi yang sudah diperoleh.

Pada awal sejarahnya, menulis dilakukan dengan menggunakan gambar, contohnya tulisan hieroglif pada zaman Mesir Kuno. Tulisan dengan aksara muncul sekitar 5.000 tahun lalu. Banyak orang dari Sumeria (Irak) menciptakan tanda-tanda pada tanah liat yang mewakili bunyi, berbeda dengan huruf-huruf hieroglif yang mewakili kata-kata atau benda.

Biasanya menulis menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil yang dilakukan pada media kertas. Seiring dengan perkembangan zaman sejak diciptakannya teknik percetakan, orang makin giat menulis karena karya tulis mereka mudah diterbitkan sehingga kegiatan menulis berkembang pesat. Perkembangan kegiatan menulis tersebut bertambah pesat lagi di dunia seiring dengan perkembangan teknologi dan media. Setiap orang dapat memperoleh bahan penulisan dari internet melalui media elektronik sehingga membuat penulis menjadi lebih efisien dalam memanfaatkan waktu, biaya, dan tenaga untuk menulis. Selain itu penulis juga bisa menggunakan teknologi berbasis internet untuk berbagi semua tulisannya di manapun ia berada. Begitu juga dengan para pembaca, akan lebih mudah untuk melihat tulisan-tulisan penulis yang digemarinya.

Unsur dalam Tulisan

Kegiatan menulis menghasilkan tulisan yang mempunyai empat unsur yaitu :

1.    Gagasan

Gagasan merupakan topik yang dimiliki oleh sebuah tulisan berkaitan dengan pengalaman masa lalu atau pengetahuan yang dimiliki oleh penulis. Topik disajikan dalam bentuk pendapat, pengalaman atau pengetahuan.

2.    Tuturan

Tuturan merupakan gagasan yang dapat dimengerti oleh pembaca tulisan. Jenis tuturan umumnya terbagi menjadi deskripsi, persuasi, narasi, argumentasi dan eksposisi.

3.    Tatanan

Tatanan merupakan kaidah yang harus dipenuhi ketika gagasan diungkapkan selama kegiatan menulis. Penulis harus menulis sesuai dengan tatanan yang berlaku dalam suatu tulisan.

4.    Wahana

Wahana merupakan alat pendukung untuk menyampaikan gagasan dalam menulis. Wahana dapat berbentuk gramatika, kosakata dan retorika. Banyaknya wahana yang digunakan selama kegiatan menulis bergantung kepada tingkat penguasaan makna dan jumlah kata yang diketahui oleh penulis

 

Tujuan Menulis

Menulis secara umum memiliki tujuan sebagai berikut :

1. Memberikan arahan pada pembaca mengenai sesuatu melalui tulisan dalam bentuk pedoman, petunjuk atau informasi.

2. Menjelaskan bermakna bahwa tulisan memberikan suatu informasi yang perlu diketahui oleh pembaca.

3.    Menceritakan suatu kejadian yang pernah terjadi dalam bentuk informasi.

4.  Meringkas  atau mempersingkat isi tulisan yang telah ada menjadi lebih ringkas tanpa menghilangkan gagasan yang ada di dalamnya

5. Meyakinkan pembaca melalui isi tulisan untuk membuat pembaca menyetujui atau sependapat dengan gagasan yang tertulis.

 

Tingkatan Menulis

Berdasarkan tingkat keseriusannya, menulis dibedakan menjadi :

1. Menulis serius merupakan kegiatan menulis yang memerlukan tingkat kecermatan yang tinggi disertai dengan tingkat konsentrasi yang tinggi seperti menulis karangan.

2.   Menulis santai merupakan kegiatan menulis yang hanya membuat tulisan sekadarnya saja dan tidak diperlukan konsentrasi yang tinggi seperti menulis pesan singkat.

 

Hambatan Menulis

Kegiatan menulis umumnya terhambat akibat adanya keraguan penulis terhadap tulisan yang ditulisnya dan pada umumnya adalah pemikiran-pemikiran yang tidak rasional dan berlebihan. Ada beberapa bentuk keraguan dalam menulis antara lain :

1.  Kecemasan terhadap tulisan yang dihasilkan. Kecemasan terhadap tulisan yang dihasilkan merupakan  kecemasan mengenai kelayakan tulisannya dalam sudut pandang pembaca serta kesesuaiannya dengan selera pembaca.

2.    Kehabisan gagasan dan ketakutan akibat persaingan ide dengan penulis lainnya. Kehabisan gagasan umumnya terjadi akibat stres kerja yang diakibatkan karena kurangnya kegiatan rekreasi yang dilakukan oleh penulis.

 

Penulis memiliki kemampuan menulis yang berbeda-beda. Perbedaan ini umumnya dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan dari penulis dan kemampuan penulis atau bisa juga dipengaruhi oleh kebutuhan dari pembaca tulisan.

Selain melatih kemampuan menulis sangat penting melakukan Novelty. Novelty adalah unsur kebaruan atau temuan dari sebuah penelitian sehingga memiliki kontribusi baik bagi keilmuan maupun bagi kehidupan. Artinya dalam menulis tidak diperbolehkan untuk copas tulisan orang lain atau plagiasi. Temuan baru yang kita miliki dituangkan dalam bentuk tulisan dan hasilnya diterbitkan menjadi sebuah buku.

 Semoga Alloh SWT senantiasa membimbing kita. Aamiin.


Senin, 01 November 2021

Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan

 


Pertemuan 13

Hari/Tanggal            :     Senin, 01 November 2021

Materi                        :     Proofreading  sebelum Menerbitkan Tulisan

Nara Sumber           :     Susanto, S.Pd.

Moderator               :     Rosminiyati

Penulis                       :     Fatmawati, S.Pd.

 

Atas Berkat Rohmat Alloh Yang Maha Kuasa pada hari ini senin tanggal 01 November 2021 walaupun suasana dingin mendera dan hujan deras masih dapat mengikuti pelatihan belajar menulis pada pertemuan ke-13. Pertemun kali ini  dimoderatori oleh Ibu Rosminiyati. Nara sumber pada pertemuan ini adalah Bapak Susanto, S.pd.  yang akan menyampaikan materi tentang “Proofreading sebelum Menerbitkan Tulisan.” Beliau adalah alumnus BMMWABO&PGRI G-15.

Sebelum menyampaikan materi inti, nara sumber menyampaikan tujuan dari mempelajari materi proofreading  adalah sebagai berikut : 

1. Menjelaskan pengertian proofreading.

2. Menjelaskan hal-hal yang menjadi objek proofreading
3. Melakukan proofreading menggunakan KBBI dan PUEBI daring sebagai alatnya.

Proofreading atau kadang disebut dengan uji-baca adalah membaca ulang sebuah tulisan yang bertujuan untuk memeriksa apakah terdapat kesalahan dalam teks tersebut. Kesalahan yang dimaksud di sini termasuk kesalahan penggunaan tanda baca, ejaan, konsistensi dalam penggunaan nama atau istilah, hingga pemenggalan kata. Selain itu proofreading tidak sekadar menyoroti kesalahan tanda baca atau ejaan, tetapi juga logika dari sebuah tulisan, apakah sudah masuk di akal atau belum.

Tugas seorang proofreader bukan hanya membenarkan ejaan atau tanda baca tapi juga harus bisa memastikan bahwa tulisan yang sedang ia uji-baca bisa diterima logika dan dipahami atau tidak seperti efektif atau tidaknya sebuah kalimat, ketepatan susunan kalimat dan substansi sebuah tulisan.

Siapa yang melakukan proofreading ?

Proofreading dapat dilakukan oleh penulis atau orang lain

Proofreading adalah aktivitas memeriksa kesalahan dalam teks dengan cermat sebelum dipublikasikan atau dibagikan. Proofreading merupakan kegiatan akhir setelah tulisan diselesaikan dan diendapkan beberapa saat bisa dalam hitungan jam atau hari. Ketika penulis melakukan Proofreading maka ia bertindak sebagai “Calon Pembaca”.

Langkah-langkah melakukan  Proofreading antara lain :

1.   Langkah Pertama

    Merevisi draf awal teks, seringkali membuat perubahan signifikan pada konten dan memindahkan, menambahkan atau menghapus seluruh bagian.

2.    Langkah Kedua

   Merevisi penggunaan bahasa: kata, frasa dan kalimat serta susunan paragraf untuk meningkatkan aliran teks.

3.  Langkah Ketiga

    Memoles kalimat untuk memastikan tata bahasa yang benar, sintaks yang jelas, dan konsistensi gaya, serta memperbaiki kalimat kalimat yang ambigu.

4.   Langkah Keempat

    a. Cek ejaan. Ejaan ini merujuk ke KBBI & PUEBI, tetapi ada beberapa kata yang mencerminkan        gaya penerbit,   

    b. Pemenggalan kata-kata yang merujuk ke KBBI, 

    c. Konsistensi nama dan ketentuannya,  

    d. Perhatikan judul bab dan penomorannya.

Ketika menulis sebisa mungkin hindari kesalahan-kesalahan yang tidak perlu seperti typo atau kesalahan penulisan kata dan penyingkatan kata, memberi spasi (jarak) kata dan tanda koma, tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya. Tanda-tanda baca tersebut tidak boleh diketik terpisah dari kata yang mengikutinya. Seorang penulis haruslah menguasai EYD (sekarang PUEBI) dan kata-kata baku di KBBI.

Cara mudah melakukan proofreading terutama pada ejaan :

1. Setelah tulisan di blog selesai, buka jendela draft, dan buka juga jendela pratinjau. 
2. Baca tulisan pada jendela pratinjau. 
3. Jika ada kesalahan penulisan, blok kata yang salah lalu di copy. 
4. Setelah itu buka jendela draft, tekan tombol CTRL + F. 
5. Tempelkan salinan tadi di kolom pencarian CTRL + V. 
6. Akan muncul highlight tulisan, kita lakukan perbaikan
7. Setelah itu klik tombol simpan atau CTRL+S 
8. Buka jendela pratinjau, kemudian refresh atau tekan tombol F5.

Agar sebuah tulisan menarik dan mudah dipahami, strategi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

1.  Tulisan sesuai dengan tema yang dibahas, mengandung unsur yang diperlukan, SIDAMBA terjawab: Siapa, Di mana, Apa, Mengapa, Bagaimana, dan Kapan terpenuhi sesuai tema.

2. Struktur kalimat yang digunakan baik dan benar S-P-O-K nya. Apakah kalimat tunggal atau kalimat majemuk. Jika kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat, tulis dengan struktur yang baik dan benar.

3. Upayakan tidak ada kesalahan ejaan/penulisan/pemenggalan kata

4. Pilihan kata bagus, kata baku yang digunakan sesuai KBBI

5. Substansi tulisannya rasional dan wajar agar tulisan dapat diterima secara logika.

 

Proofreading dan editing ada sedikit perbedaan yaitu editing lebih fokus pada aspek kebahasaan, sedangkan proofreading selain aspek kebahasaan, juga harus memperhatikan isi atau substansi dari sebuah tulisan. Proofreading tidak sekadar menyoroti kesalahan tanda baca atau ejaan, tetapi juga logika dari sebuah tulisan, apakah sudah masuk di akal atau belum.

Kita perlu melakukan proofreading baik oleh diri sendiri maupun orang lain dalam rangka melakukan perbaikan sebelum tulisan diterbitkan, dengan menggunakan KBBI dan PUEBI agar tulisan kita nyaman dibaca dan informasi/pesan yang ingin kita sampaikan dapat dipahami dengan baik oleh pembaca.

Semoga Alloh SWT. senantiasa membimbing kita. Aamiin.

Membangun Digital Space yang Aman untuk Anak

 Pertemuan 1 GMLD

Hari/Tanggal                :   Senin, 01 November 2021
Materi                          :    Membangun Digital Space yang Aman untuk Anak
Nara Sumber               :    Wijaya Kusumah, M.Pd.
Moderator                   :    Dail Ma’ruf, M.Pd.
Penulis                        :    Fatmawati, S.Pd.


Hari ini Senin tanggal 01 November 2021 merupakan pertemuan perdana Kelas Guru Motivator Literasi Digital (GMLD). Pertemuan kali ini dipandu oleh bapak Dail Ma’ruf lulusan kelas menulis gelombang 20 yang memiliki banyak karya baik itu buku solo maupun buku antologi. 
 Sedangkan materi untuk pertemuan ini adalah “Membangun Digital Space yang Aman untuk Anak” yang disampaikan oleh Bapak Wijaya Kusumah lebih dikenal dengan panggilan Om Jay. Beliau adalah seorang teacher, motivator, trainer, writer, blogger, dan banyak lagi sebutan yang disandangnya. Biodata lengkap dapat di baca di di https://wijayalabs.com/about.

Ada 4 hal dalam literasi digital yang harus kita kuasai, sehingga kita bisa menyampaikannya kepada peserta didik kita, yaitu kecakapan digital, budaya digital, etika digital dan keamanan digital.

Bagaimana cara kita Membangun Digital Space yang Aman untuk Anak ?

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam membangun digital space yang aman untuk anak, antara lain :

1.         Mengajak anak untuk memahami perkembangan dunia digital yang terus berkembang

2.         Memahami psikologi anak dan perkembangannya dalam dunia digital

3.         Menyadarkan anak tentang apa saja resiko kejahatan pada anak

4.         bagaimana cara aman dan nyaman berinternet bersama keluarga tercinta

Keamanan anak di dunia digital dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya :

1.       Anak-anak merupakan kelompok yang rentan terhadap kejahatan digital.

Pada masa pandemi, kedekatan anak kepada gadget melebihi kedekatan mereka pada orang tua mereka. Anak-anak merupakan kelompok yang rentan terhadap kejahatan digital karena tidak semua orang yang berada dalam dunia digital itu baik sehingga perlu cara khusus bagi kita sebagai orang tua dan guru untuk mengantisipasi hal tersebut salah satunya dengan tidak membiarkan anak-anak kita mengumbar data pribadi di media digital atau media sosial karena berakibat data privasi dapat disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab seperti untuk menipu, memeras dan perbuatan jahat lainnya

2.       Ketidak tahuan dan ketidak mampuan menggunakan media digital dengan baik dan benar.

Ketidaktahuan dan ketidakmampuan menggunakan media digital dengan baik dan benar, membuat mereka menjadi korban kejahatan media digital. Bahkan banyak juga orang dewasa yang menjadi korbannya. Resiko kejahatan di ruang digital pada anak yang sering terjadi adalah kecanduan games, cyberbully, pelanggaran privasi, kejahatan seksual dan lain-lain yang bisa kita baca di media social. Kita harus mulai belajar di media digital dan usahakan sudah membuka website https://literasidigital.id

3.      Telah terekspos konten pornografi yang muncul dengan tidak sengaja saat mengakses media sosial.

Saat ini banyak sekali konten-konten pornografi yang muncul secara tidak sengaja ketika sedang meggunakan media sosial sehingga memerlukan perhatian dan panduan khusus para guru dan orangtua dalam mendampingi anak atau peserta didik dalam menggunakan media sosial.

4.       Tidak memahami bahkan tidak perduli akan bahaya yang dapat mengancam.

Ada beberapa risiko kejahatan ruang digital yang dapat terjadi pada anak, antara lain, kecanduan games, cyberbully, grooming, pelanggaran privasi dan kejahatan seksual.

Orang tua harus peka dengan tingkah laku anaknya yang gemar bermain game di gadget. Jangan sampai, anak mengalami kecanduan yang berdampak terhadap kesehatan psikologisnya. Anak main game untuk melarikan diri dari ketidaknyamanan namun  jam pemakaian game sudah tidak proporsional.

Grooming merupakan kasus pelecehan seksual pada anak dengan modus iming iming PDKT, dan Kasus grooming pada anak mulai banyak ditemukan sejak tahun 2019 dan terus bertambah setiap tahunnya.

5.   Mudah saling berbagi informasi termasuk data yang sifatnya pribadikepada orang yang baru dikenal.

Dari hasil survey Google bersama Trust dan Safety research pada bulan Februari 2021, ada 51 % orang tua di Indonesia merasa khawatir tentang keamanan digital anak. Bahkan ada 42 % orangtua mengkhawatirkan 3 hal yaitu keamanan informasi anak, anak-anak menerima konten yang tidak pantas, dan anak-anak menerima perhatian dari orang yang tidak dikenalnya.

Kita sebagai orang tua dan juga guru harus mulai waspada dan belajar tentang literasi digital. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain :

•  Smart, tidak menyebarkan informasi sensitif seperti nomor telepon, passport/KTP, password, dan alamat rumah

•   Alert, jangan mudah percaya dengan hal yang tidak masuk akal, jauhi phising dengan tidak meng-klik link sembarangan

•  Strong, gunakan password yang sulit agar tidak mudah diretas baik untuk akun maupun gawai, biasakan menggunakan two step authentication

•  Kind, sadari aktivitas online yang kita lakukan, untuk mencegah terbentuknya rekam jejak yang membuat kita rawan jadi target kejahatan digital.

•    Brave, mengenali dan mencegah bentuk-bentuk kejahatan di ruang digital.

 

Ada kiat-kiat yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk aman berinternet bersama anak antara lain :

•    Jaga Komunikasi dengan anak

•  Bekali diri dan terus belajar karena  risiko kejahatan ruang digital bisa diatasi dengan kecakapan literasi digital

•   Gunakan fitur dan aplikasi untuk menjaga keamanan anak di internet

•  Buat aturan bersama dan terapkan konsekuensinya seperti batasan waktu atau durasi penggunaan gadget dan diskusikan tentang resiko atau dampak buruk dari penggunaan gadget yang berlebihan

•  Menjadi teman, dampingi anak saat mengakses internet, ikuti anak di media sosial dan  jangan berlebihan

•   Jelajahi, berbagi dan bermain bersama anak

•   Jadilah teladan dan rule model digital yang baik agar anak-anak lebih cermat dan bijak dalam ruang digital


Web Rujukan Digital Parenting

•    literasidigital.id (kumpulan buku, video, infografis tentang literasi digital yang dapat di unduh secara gratis)

•       Smartschoolonline.id (program edukasi terkait pemanfaatan internet yang sehat)

•       Sahabatkeluarga.kemendikbud.go.id (artikel, modul, video terkait isu parenting)

•       fosi.org (beragam panduan dan tools pengembangan digital parenting

•       beinternetawesome.withgoogle.com


Membangun digital space yang aman untuk anak harus dimulai dari kita sebagai orang tua sebagai pendidik dalam keluarga. Ibarat membangun rumah, maka pondasinya harus kuat dan kita harus mulai menanam pohon pendidikan.

Pohon pendidikan itu berakar moral dan agama, berbatang ilmu pengetahuan, beranting amal perbuatan, berdaun tali silahturahim dan berbuah kebahagiaan.

Kehadiran dan kemajuan teknologi tidak dapat dihindari dan menuntut orang tua dan guru untuk terus banyak belajar agar makin cakap untuk literasi digital sehingga dapat memandu dan mendampingi anak-anak dalam mengakses internet dan literasi digital agar terhindar dari kejahatan dunia digital.

Ketulusan : Kebaikan yang Tidak Perlu Dilihat Orang Lain

Ada banyak hal baik yang kita lakukan setiap hari. Membantu teman, memberi perhatian, mendengarkan seseorang yang sedang sedih, atau sekadar...